Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2018

Wiji Thukul dan Puisinya

TIDAK  ada yang lebih menakutkan Orde Baru daripada Pramoedya Ananta Toer yang kreatif dan Wiji Thukul yang miskin dan bertubuh kurus kering yang seumur hidup bernaung di bawah atap rumah petak di sudut gelap kota Solo (Daniel Dhakidae). Untuk yang pertama disebutkan di atas, tidak ada penerbit yang bersedia menerbitkan karya-karyanya. Pramoedya yang “hanya” penulis roman menjadi “musuh” bersama ketika Orde Baru masih berkuasa. Tidak cukup hanya itu saja.

Banyak naskah-naskah Pram (sebutan untuk Pramoedya) dibakar oleh kekuasaan fasis Orde Baru. Ini membuat Pram, dan juga bangsa ini, kehilangan harta paling berharga yang dia punya. Semua karyanya dilarang beredar. Tidak ada satu pun toko buku yang berani menjual bukunya. Sekolah-sekolah di negeri ini nyaris tidak pernah membahas karyanya. Tuduhan subversi (tindakan mengancam keselamatan negara) dilayangkan bagi siapa saja yang ketahuan membaca buku Pram. Wiji Thukul mengalami hal yang kira-kira sama dengan apa yang dialami Pram.

Kala…

Narasi Politik dan Pilpres 2019

Jika kita membahas mengenai Pemilihan Presiden tahun 2019 yang akan datang, banyak sekali perspektif yang dapat kita sampaikan dan diskusikan. Pilpres tahun depan menjadi menarik karena banyak sekali dinamika yang terjadi menjelang proses tersebut, dan menjadi lebih menarik karena di dalamnya disisipkan branding-branding politik oleh rezim yang hari ini berkuasa dan pihak oposisi.

Pada tulisan ini, penulis akan menarasikan mengapa narasi politik akan menjadi kunci kemenangan bagi para pasangan calon yang berlaga tahun depan.

Narasi Keagamaan Petahana

Selama 4 tahun kepemimpinan Jokowi-JK, isu keagamaan menjadi salah satu masalah yang cukup penting bagi pemerintah. Pada masa Jokowi-JK, banyak tuduhan yang menyatakan bahwa pemerintah saat ini adalah pemerintah yang jauh terhadap ulama dan nilai-nilai islam. Hal ini ditandai dengan pembubaran ormas HTI dan kriminalisasi terhadap ulama-ulama tertentu. 

Isu keagamaan ini juga menjadi gorengan empuk bagi pihak oposisi untuk menyerang pemeri…

Menilik Karakter Bangsa Melalui Budaya Berlalu Lintas

Kemarin sore di stasiun Kota Blitar, lagi-lagi aku dibuat naik pitam oleh seorang pengguna jalan. Antrean yang memanjang tak lagi diindahkan, dengan wajah yang merasa tak bersalah si pengendara motor menyerobot hingga dekat portal. Sebagian orang kulihat murka, tetapi tindakan mereka masih sebatas menggerutu. Tak ayal si pengendara pun semakin percaya diri dengan kesalahan yang diperbuat.

Waktu itu, aku yang membawa barang bawaan lumayan berat, tak cukup bersabar untuk sekadar ikut menggerutu. Dengan tertatih, kupepet si pengendara yang sudah berada di urutan kedua dari portal pintu keluar. Niatku simpel. Kutegur dia, kuberi tahu kalau dia salah, dia minta maaf, dia kembali ke barisan yang semestinya, urusan selesai!

Nyatanya menegur dan menasehati orang yang sudah jelas-jelas salah tak sesimpel yang kubayangkan. Si pengendara itu bebal, teguranku hanya direspons dengan menolehkan wajah sesaat kemudian berpaling. Tindakanku rupanya disambut hangat oleh pengendara lainnya. Mereka mena…

Peran Penting Guru Sekolah

Guru menurut bahasa Arab disebut ustadzun,  kata ustadzun bila dirunut sampai kepada tugas yang sangat mulia. Karena  ia sebagai penyampai atau disebut juga dengan muballigh, walaupun dalam istilah bahasa arab yang lain kadang juga disebut mudarris, yang artinya penyampai pelajaran. Dan sudah familiar di masyarakat luas ulama yang biasa memberikan kajian pun disebut ustadz. Disinilah letak peran pentingnya seorang guru.

Guru adalah pekerjaan mulia dan termuliakan, sampai dalam sebuah riwayat kalau prioritas bagi seorang yang masuk ke dalam komunitas yang mendapat penghargaan tersendiri di hadapan sang Kholiq Allah di padang mahsyar kelak adalah  guru. Pantas saja seorang guru bukan sekedar lihai dalam menyampaikan materi, mentransfer knowledge tapi juga menjadi pendamping, pembimbing dan penyampai kebaikan sampai murid-muridnya menjadi berkarakter mulia yang akhirnya kelak dari sekolah itu lahir generasi hebat dan menjadi bagian dari peradaban mulia. Demikianlah tugas mulia seorang g…

Kewaskitaan NU dan Santri

Penempaan hidup komprehensif yang dihadapi dan dilakukan oleh santri di pondok pesantren turut membentuk karakter, akhlak, kelimuan, bahkan kebudayaan dan peradaban yang mengakar luas dan menyatu dengan pilar-pilar kehidupan masyarakat. Hal ini tidak terlepas dari peran keagamaan dan peran sosial para kiai, sosok panutan dan samudera ilmu sumber para santri berproses penuh ketekunan di pondok pesantren sehingga berdampak luas dalam diri kehidupan para santri.

Tradisi keilmuan seorang kiai yang diserap oleh santri tidak hanya untuk mengisi aspek eksoteris saja, tetapi aspek esoteris atau batin di mana santri diajarkan untuk peka dan tajam dalam melihat dan memahami realitas kehidupan di tengah masyarakat. Inilah yang disebut kewakitaan. Kewaskitaan nyata terlihat dalam diri seorang santri bernama Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Tidak sedikit orang yang menilai, Gus Dur merupakan sosok yang mampu weruh sadurunge winarah (mengetahui sebelum sesuatu terjadi).

Proses belajar tersebut merupak…

Agama Sebagai Realitas Historis #1

Agama—khususnya yang bersumber dari wahyu (revealed religions atau samawi, agama langit) dalam kenyataannya lebih dari sebagai doktrin yang ada dalam kitab suci. Tetapi, agama wahyu hidup tidak hanya dalam kitab suci; dia juga menjadi realitas historis, sosiologis, antropologis, politis, dan sebagainya ketika dia dianut dan menyebar di lingkungan masyarakat manusia.

Oleh karena itu, kitab suci agama wahyu sekalipun eksis tidak dalam lingkungan yang vakum dari realitas historis, sosial, budaya, politik, ekonomi, dan seterusnya. Pertemuan dan interaksi antara wahyu dan realitas ini mengakibatkan adanya beberapa kitab suci yang dipercayai sebagai wahyu mengalami perubahan, sehingga memunculkan berbagai macam versi kitab suci seperti bisa terlihat dalam pengalaman Kristianitas.

Dalam pada itu, Alquran yang diyakini kaum Muslimin sebagai wahyu dari Allah SWT yang disampaikan melalui malaikat Jibril kepada Muhammad SAW tidak mengalami perubahan. Kaum Muslim meyakini keseluruhan ayat Alqura…

Perseteruan Arab Saudi dan Kanada

Politik luar negeri Arab Saudi sedang memanas. Pasalnya, Arab Saudi mengambil langkah yang tidak biasa terhadap Kanada. Yakni, memutuskan hubungan diplomatik dengan negara yang dikenal multikulturalisme itu. 

Sikap Arab Saudi tersebut dianggap sebagai sikap yang tidak biasa. Meskipun selama ini Arab Saudi dikenal keras terhadap negara-negara yang berada di kawasan, seperti Mesir, Iran, Yaman, dan Qatar. Arab Saudi kerap menabuh genderang perang terhadap negara-negara lain. Arab Saudi dikenal sebagai "polisi" bagi negara-negara tetangganya.

Namun, kali ini Arab Saudi memperluas perseteruan dengan negara Barat, yaitu Kanada. Hal itu bermula dari komplain Kanada terhadap Arab Saudi terkait penangkapan dua aktivis hak asasi manusia (HAM), Samar Badawi dan Nassima al-Sadah. Bagi Kanada, penangkapan terhadap para aktivis HAM dalam beberapa bulan terakhir merupakan pelanggaran HAM yang sudah disepakati oleh dunia internasional. Namun, Arab Saudi merupakan satu-satunya negara di du…

Mencoba Menyibak Misteri Di Balik Dipilihnya Sandiaga Uno

Bursa capres-cawapres hampir final. Jokowi mengusung KH Ma’ruf Amin sebagai cawapres. Sandi dipilih Prabowo sebagai pendampingnya. Dua pilihan yang agak mengejutkan publik.

Pilihan Jokowi tampaknya lebih mudah dipahami. Setidaknya karena dua alasan utama. Pertama, jelas Jokowi membutuhkan sosok ulama untuk membendung isu yang selama ini dijadikan senjata untuk menyerangnya. Kedua, para parpol merasa lebih nyaman karena MA dianggap sudah sepuh (75 tahun) sehingga sangat kecil kemungkinan mencalonkan diri jadi capres pada pilpres 2024 nanti.

Alasan yang agak membingungkan publik adalah dipilihnya Sandi untuk mendampingi Prabowo. Di luar soal isu dukungan finansial Sandi, pilihan ini terkesan ganjil. Pertama karena keduanya dari Gerindra. Jelas bagi akar rumput PAN dan PKS akan sulit untuk sepenuh hati mendukung pasangan ini. Kedua, basis pemilih keduanya sama. Jaring politik yang dibentangkan jelas tidak akan bisa melebar. Ketiga, elektabilitas Sandi sangat rendah, tidak akan banyak me…

Cara Muslim Milenial Tebar Kebaikan

Afeksi terhadap generasi muda sudah disampaikan Bung Karno puluhan tahun lalu. Yang paling diingat tentu kredo ”beri aku sepuluh pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia”. Menjelang era bonus demografi Indonesia pada 2020–2030, harapan yang disematkan kepada generasi muda atau kini disebut generasi milenial itu semakin tinggi.

Pada kurun tersebut, lebih dari separo warga Indonesia berada di usia produkif, yakni 15–64 tahun. Buku Muslim Milenial ini adalah salah satu jawaban atas tantangan generasi milenial dalam memanfaatkan usia produktifnya.

Buku yang ditulis 36 alumni Muslim Exchange Program (MEP), sebuah program pertukaran tokoh muda muslim Indonesia-Australia, ini menggugah para penyandang bonus demografi agar tidak hanya urun angan, apalagi berpangku tangan. Harus turun tangan.

Roh tulisan dalam buku ini adalah menebar kebajikan, baik yang dialami sendiri oleh penulis maupun kisah-kisah yang dijumput dari orang lain. Kemajuan zaman dengan segala perkembangan teknologi informasin…

Menjadi Neraka demi Surga

Anda tentu pernah mendengar sebuah cerita kiasan tentang seorang pengusaha sukses yang mencoba meyakinkan seorang nelayan miskin untuk beralih profesi dan menjalani hidup seperti dirinya. Ia sudah kepalang yakin, hanya dengan menjadi seperti dirinya, kebahagiaan adalah ujungnya.

Kepada si nelayan, sang pengusaha meyakinkan bahwa hanya dengan menjadi pengusaha, maka semua yang diinginkan oleh si nelayan akan terkabulkan.

“Coba kalau Anda mau jadi pengusaha, Anda tentu bisa memiliki hari tua yang menyenangkan,” katanya penuh bangga.

“Apa maksudmu hari tua yang menyenangkan?”

“Dengan menjadi pengusaha, Anda bisa santai di hari tua,” katanya sambil berusaha menyembunyikan perut yang membuncah sombong menerjang sabuk di celana mahalnya.

“Tapi saya sudah santai sekarang,” sela nelayan.

“Tapi, kebahagiaan Anda belum sempurna. Kalau jadi pengusaha, Anda bisa pensiun di usia 50 tahun. Anda bisa menghabiskan lebih banyak waktu bersama keluarga. Bermain gitar di sore hari, tidur tenang di siang…

Menyoal Opini Publik yang Itu-itu Saja

Sudah sekitar satu bulan lebih publik Indonesia diramaikan dengan peristiwa aksi yang digelar oleh jutaan rakyat. Aksi masa yang berlabel “Aksi Bela Islam” ini setiap hari berita dan opininya sesak menjejali media.

Peristiwa aksi massa ini memang sangat fenomenal dan jarang terjadi ditambah melibatkan banyak aktor penting di dalamnya. Namun berjejalnya berita dan opini setiap hari di media, kian membuat sumpek dan jenuh seperti sudah tidak ada lagi tema lain yang bisa dijadikan berita atau opini.

Sudah tidak terhitung lagi berapa juta rangkian kata yang terpakai hanya untuk mengomentari aksi massa ini. Media sosial, portal berita daring dan wadah bagi penulis amatir seperti saya setiap hari membicarakan masalah yang sama, masalah yang itu-itu saja. Dari pagi sampai malam sampai pagi lagi, masih banyak saja yang melontarkan komentar tentang “Aksi Bela Islam” tersebut.

Komentarnya mulai dari yang murni kontra, pura-pura kontra biar terlihat berbeda, ada juga yang murni setuju dan banya…

Menyusui sebagai Fondasi Kehidupan

BREASTFEEDING: Foundation of Life, begitulah tema Pekan ASI Sedunia yang diangkat tahun ini. Tema yang sungguh luar biasa jika kita terjemahkan menjadi Menyusui: Fondasi Kehidupan. Pekan ASI Sedunia yang diperingati pada 1—7 Agustus dapat menjadi momentum evaluasi sejauh mana supporting system menyusui sudah terbangun di setiap negara.

Jika melihat profil kesehatan Indonesia tahun 2017, bayi yang baru melahirkan mendapatkan inisiasi menyusu dini (IMD) seluruh Indonesia hanya 6,65%, sementara untuk Lampung sendiri hanya 3,03%. Untuk jumlah bayi yang mendapatkan ASI eksklusif sampai dengan enam bulan seluruh Indonesia 35,73%, sedangkan untuk Lampung hanya 32,21%.

Masalah dan Dukungan Menyusui

Data tersebut dapat menjadi bahan evaluasi mengapa angka menyusui di Indonesia, khususnya di Lampung, belum sesuai target dalam renstra Kementerian Kesehatan yang dikeluarkan melalui Kepmenkes No. HK.02.02/Menkes/52/2015. Target persentase bayi usia kurang dari 6 bulan mendapatkan ASI eksklusif unt…

Peran Aktif Pemuda Zaman Now dalam Membangun Desa

Pembangunan dan pemberdayaan masyarakat desa dalam upaya mendukung implementasi Undang-undang Desa, perlu melibatkan semua unsur kelompok masyarakat desa, salah satunya adalah pemuda/pemudi.

Merupakan hak masyarakat untuk terlibat dalam seluruh proses berdesa sebagai wujud dari pengakuan atas rekognisi dan subsidiaritas desa dalam melaksanakan kewenangan berdasarkan hak asal usul dan kewenangan lokal berskala desa.

Megutip ungkapan Sekretaris Jenderal, Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi, Anwar Sanusi, “Pemuda itu memiliki pemikiran, tenaga yang besar, semangat, dan kreatifitas untuk bergerak dalam pembangunan di desa. Jika pemuda dapat diberdayakan secara maksimal di 74.910 desa, saya yakin itu akan memberi dampak signifikan,” ujarnya”

Pemuda menyimpan potensi besar untuk memimpin pembangunan di Desa. Mereka dapat menjadi kunci keberlanjutan pembangunan dengan pemikiran-pemikiran Zaman Now. Aktivitas pemuda saat ini, sangat dekat dengan kecepatan inform…

Mengembalikan Kejayaan Olahraga Indonesia Melalui Momentum Asian Games2018

Pesta olahraga 4 tahunan sekali di benua Asia yang dikenal dengan Asian games, kurang lebih 80 hari lagi akan dilasanakan mulai tanggal 18 Agustus sampai 2 September 2018. Kali ini, Indonesia kembali mendapatkan kesempatan dan kepercayaan yang kedua untuk menjadi tuan rumah perhelatan pesta olahraga yang terbesar kedua di dunia itu. Sebelumnya, 56 tahun lalu pada Asian Games ke IV di tahun 1962 juga diselenggarakan di Jakarta.

Untuk penyelenggaraan Asian Games XVIII 2018 yang diselengarakan di Jakarta dan Palembang, jumlah cabang olahraga yang dipertandingkan sebanyak 40 cabang dari total 462 medali emas yang diperebutkan. Maka sangatlah menarik untuk mengkaji posisi dan peluang Indonesia dalam perolehan medali emas pada Asian Games XVIII.

Pada keikutsertaan Indonesia dalam Asian Games XVII tahun 2014 di Incheon Korea Selatan, Indonesia hanya mampu berada pada posisi 17 dengan catatan perolehan medali 4 emas, 5 perak dan 11 perunggu. 4 medali emas pada Asian games 2014 lalu diraih da…

Poros Alternatif dan Deradikalisasi Pilpres

In man-Out Man' adalah strategi politik yang awalnya dikembangkan oleh Murray Chotiner, seorang konsultan politik yang sangat dekat dengan Presiden ke- 37 Amerika Serikat Richard Nixon. Premis utama strategi ini adalah negative voting. Dalam premis ini, kandidat A akan dipilih karena publik sangat tidak menyukai kandidat B. Jadi, kampanye akan penuh dengan gelombang dan mobilisasi opini negatif tentang lawan. Strategi ini mulanya didesain untuk menjatuhkan petahana, dan hanya akan efektif bila hanya ada dua pasang kandidat dalam kompetisi.

Sedang Berjalan

Disadari atau tidak, skenario in man-out man sedang berjalan. Kemunculan tagar '2019 Ganti Presiden' yang diikuti dengan mobilisasi kekuatan sosial yang masif adalah salah satu indikasi. Dari survei yang kami lakukan pertengahan Juli, ada 44.68% publik yang mengaku setuju dengan gerakan '2019 Ganti Presiden' versus 39,24% yang tidak setuju. Bila terus menggelinding, mencari nama definitif penantang Jokowi menjadi…

Pray For Lombok (Refleksi)

#PRAY4LOMBOK. Dalam setahun rata-rata ada 6.000 gempa di Indonesia. Sebab kepulauan kita yang kaya dan subur ini bukan jatuh dari kepingan surga, melainkan justru karena ditempa di “jalur neraka” (ring of fire).

Tapi bukan gempa yang mencelakai, melainkan bahan dan teknik bangunannya. Peradaban lama Nusantara beradaptasi dengan teknologi rumah panggung yang terjangkau semua kalangan. Yang membedakan status sosial antara rumah panggung milik bangsawan dan rakyat adalah jenis kayu atau ukiran-ukirannya. Tapi esensinya, ini adaptasi yang bisa dilakukan semua orang.
Lalu hutan mulai dikomersialisasi. Rakyat kehilangan bahan baku utama membangun rumah. Sementara proses geologi yang melahirkan gempa, tak pernah berubah. Kayu yang tadinya gratis tinggal mengambil, dan dikerjakan gotong royong, kini menjadi barang mahal. Karena hutan telah langka (akibat kebijakan negara), lalu negara menghibur diri dengan konsep Taman Nasional atau Kawasan Lindung. Artinya, semua yang di luar itu bisa dieks…