Langsung ke konten utama

Dampak Pengelolaan Limbah Cair dan Tinja


Saat ini, instalasi pengolahan limbah tinja (IPLT) di Tempat Pengolahan Akhir (TPA) Bakung, Kota Bandar Lampung, sudah overkapasitas. Jumlah volume limbah yang masuk melebihi daya tampung kolam pembuangan. Sejak dibangun pertama kali, IPLT tersebut hanya menampung 15 meter kubik per hari, sementara lumpur tinja yang masuk mencapai sekitar 70 meter kubik per harinya.

Pembuangan tinja merupakan salah satu upaya kesehatan lingkungan yang harus memenuhi sanitasi dasar bagi setiap keluarga. Pembuangan kotoran yang baik harus dibuang ke tempat penampungan kotoran. Bangunan yang digunakan untuk membuang dan mengumpulkan kotoran itu tersimpan dalam satu tempat tertentu dan tidak menjadi sarang penyakit.

Penyakit yang ditimbulkan oleh kotoran manusia seperti (1) penyakit enteric atau saluran pencernaan dan kontaminasi zat racun, (2) penyakit infeksi oleh virus seperti hepatitis infektiosa, dan (3) infeksi cacing seperti schitosomiasis, ascariasis, dan ankilostosomiasis.

Dampak terhadap Lingkungan

Pembuangan tinja manusia yang tidak ditangani dengan baik dapat memberikan dampak bagi manusia dan lingkungan. Pertama, dampak air limbah tinja bagi kehidupan vektor. Air limbah tinja yang di buang ke lingkungan (tanah dan badan air) banyak menimbulkan masalah vektor.

Selokan yang terdapat di dekat rumah cocok untuk bersarang berkembang biaknya lalat. Tikus juga menyenangi tempat-tempat tersebut untuk mencari makanannya. Air limbah yang tergenang di parit dan badan air yang lain juga merupakan sarang maupun berkembang biaknya beberapa jenis nyamuk. Air limbah yang berhubungan dengan kehidupan vector disebut water related vector.

Kedua, dampak limbah tinja terhadap kehidupan biota dan tumbuhan. Kandungan zat pencemar pada limbah tinja akan menyebabkan menurunnya kadar oksigen terlarut dalam air, sehingga akan mengakibatkan kehidupan dalam air yang membutuhkan oksigen terganggu serta mengurangi perkembangannya.

Selain itu, kematian dapat pula disebabkan adanya zat beracun pada tinja yang juga menyebabkan kerusakan pada tanaman dan tumbuhan air. Hal itu mengakibatkan matinya bakteri, sehingga proses penjernihan air secara alamiah yang seharusnya terjadi pada air limbah juga terhambat.

Ketiga, dampak tinja terhadap manusia. Berdasarkan hasil penelitian, seorang yang normal diperkirakan menghasilkan tinja rata-rata sehari 970 gram dan menghasilkan air seni 970 gram. Jadi, bila penduduk Indonesia dewasa saat ini 200 juta, setiap hari tinja yang dikeluarkan sekitar 194 ribu ton. Maka, bila pengelolaan tinja tidak baik, jelas penyakit akan mudah tersebar.

Sumber Penyakit

Dampak pembuangan tinja terhadap status kesehatan penduduk bisa langsung dan tak langsung. Efek langsung dapat mengurangi incidence penyakit yang ditularkan karena kontaminasi dengan tinja seperti kolera, disentri, dan tifus. Efek tidak langsung dari pembuangan tinja berkaitan dengan komponen sanitasi lingkungan seperti menurunnya kondisi kehigienisan lingkungan dan kesehatan masyarakat.

Mikroba tinja manusia mengandung puluhan miliar mikroba, termasuk bakteri coli. Sebagian di antaranya tergolong sebagai mikroba patogen, seperti bakteri Salmonela typhi. Tingkat penyakit akibat kondisi sanitasi lingkungan yang buruk di Indonesia sangat tinggi.

Penyakit-penyakit yang bersumber dari tinja manusia dikelompokkan ke dalam lima golongan. (1) Virus berupa rotavirus (diare pada anak), virus hepatitis A, dan virus poliomyelitis (polio). (2) Bakteri berupa vibrio cholerae (kolera), escherichia coli (diare), salmonella typhi (tifus), dan shigella dysenteriae (disentri). (3) Protozoa berupa balatidium coli (diare, disentri), Entamoeba histolyka (disentri amoeba, abses hati), Giardia lambria (diare amuba dan malaabsorpsi).

(4) Cacing berupa Ancylostoma (penyakit ancylostomasis), Ascaris lumbricoides (ascariasis) Shistosoma japanicum (schistosomiamis), Taenia saginata (taeniasis), Taenia solium (taeniasis), dan Tricuris tri chiura (trichuriasis). (5) Tempat vektor penyakit: nyamuk, lalat, dan kecoa.

Pengelolaan Tinja

Dalam pengelolaan dan pengolahannya, sebuah instalasi pengolahan lumpur tinja mempunyai beberapa unit dalam pengolahan tersebut. Unit-unit tersebut sebagai berikut. (1) Bak penerima lumpur tinja. Bak penerima lumpur tinja merupakan bak yang menerima langsung lumpur tinja dari truk tinja tersebut. Truk tersebut berisi tinja dari rumah masyarakat yang diambil dari septic tank rumah masyarakat tersebut. Di dalam bak ini, lumpur terjadi proses pemerataan lumpur tinja, yang selanjutnya akan dialirkan ke imhoff tank.

(2) Imhoff tank. Tangki ini merupakan bak yang di dalamnya terjadi pemisahan lumpur tinja dengan limbah tinja. Lumpur tinja masuk ke bak pengering lumpur, setelah itu limbah tinja masuk ke kolam an-aerobik. (3) Kolam an-aerobik. Dalam kolam ini, terjadi proses an-aerobik, yaitu limbah diolah tanpa adanya oksigen, sehingga timbul lapisan kerak buih di permukaan kolam tersebut. Fungi lapisan kerak putih itu untuk menahan panas di dalam kolam agar tidak menguap dan menahan sinar matahari agar tidak masuk atau menembus ke dalam kolam.

(4) Kolam fakultatif. Di dalam kolam ini, terjadi proses an-aerob dan aerob. Pada permukaan kolam tersebut terjadi proses aerob yaitu adanya proses fotosintesis. Pada dasar kolam terjadi proses an-aerob. (5) Kolam maturasi. Pada kolam ini, terjadi proses aerob, yaitu terjadi proses fotosintesis dan juga terjadi penurunan bakteri patogen.

(6) Bak pengering lumpur. Merupakan unit pengolahan terakhir, pada unit lumpur dikeringkan dengan menggunakan media seperti pasir, kerikil, koral, dan ijuk. Secara periodik, lumpur akan dikeluarkan dan dikeringkan sehingga bisa digunakan bisa untuk pupuk tanaman.

Tinja merupakan semua benda atau zat yang tidak dipakai lagi oleh tubuh yang harus dikeluarkan dari dalam tubuh. Tinja merupakan salah satu sumber penyakit yang multikompleks. Orang yang terkena diare, kolera, dan infeksi cacing biasanya mendapatkan infeksi ini melalui tinja (feses). Limbah cair, yang dimaksud dengan limbah cair adalah sisa dari suatu hasil usaha dan atau kegiatan berwujud cair yang dibuang ke lingkungan dan diduga dapat menurunkan kualitas lingkungan.

Pengelolaan limbah cair setelah proses produksi dimaksudkan untuk menghilangkan atau menurunkan kadar bahan pencemar yang terkandung di dalamnya sehingga limbah cair tersebut memenuhi syarat untuk dapat dibuang.

Dengan demikian, dalam pengolahan limbah cair untuk mendapatkan hasil yang efektif dan efisien perlu dilakukan langkah-langkah pengelolaan yang dilaksanakan secara terpadu dengan dimulai dengan upaya minimalisasi limbah (waste minimization), pengolahan limbah (waste treatment), hingga pembuangan limbah produksi (disposal).

Limbah mempunyai dampak terhadap kesehatan lingkungan dan masyarakat diantaranya adalah penularan penyakit secara cepat yang dapat menyebar melalui rantai makanan, misalnya diare, kolera, dan tifus, yang menyebar dengan cepat karena virus yang berasal dari sampah dengan pengelolaan tidak tepat dapat bercampur air minum.

Sistem pengelolaan air limbah dan air tinja yang dapat dijalankan degan dibangunnya infrastruktur pengolahan air limbah/tinja. Karena semakin bertambahnya penduduk dalam suatu wilayah, potensi untuk terjadinya pencemaran terhadap lingkungan semakin besar. Dengan infrastruktur ini, dapat mencegah terjadinya hal tersebut.

Kota Bandar Lampung dengan jumlah penduduk di atas 1 juta jiwa sudah saatnya dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat secara utuh dan terpadu, khususnya dalam mengelola kesehatan masyarakat. Pengelolaan dan pengolahan limbah padat dan limbah cair, termasuk limbah tinja, perlu mendapat perhatian yang serius.
___
Penulis: M Thoha B Sampurna Jaya/ Akdemisi Universitas Lampung (UNILA)
Sumber: Lampung Post. Terbit 06/08/2018

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Wiji Thukul dan Puisinya

TIDAK  ada yang lebih menakutkan Orde Baru daripada Pramoedya Ananta Toer yang kreatif dan Wiji Thukul yang miskin dan bertubuh kurus kering yang seumur hidup bernaung di bawah atap rumah petak di sudut gelap kota Solo (Daniel Dhakidae). Untuk yang pertama disebutkan di atas, tidak ada penerbit yang bersedia menerbitkan karya-karyanya. Pramoedya yang “hanya” penulis roman menjadi “musuh” bersama ketika Orde Baru masih berkuasa. Tidak cukup hanya itu saja.

Banyak naskah-naskah Pram (sebutan untuk Pramoedya) dibakar oleh kekuasaan fasis Orde Baru. Ini membuat Pram, dan juga bangsa ini, kehilangan harta paling berharga yang dia punya. Semua karyanya dilarang beredar. Tidak ada satu pun toko buku yang berani menjual bukunya. Sekolah-sekolah di negeri ini nyaris tidak pernah membahas karyanya. Tuduhan subversi (tindakan mengancam keselamatan negara) dilayangkan bagi siapa saja yang ketahuan membaca buku Pram. Wiji Thukul mengalami hal yang kira-kira sama dengan apa yang dialami Pram.

Kala…

Degradasi Kader PMII Di Bidang Menulis

PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia) merupakan organisasi yang basisnya adalah kederisasi, artinya proses menggodok kader atau anggota yang telah mengikuti proses MAPABA dan PKD dapat mengimplementasi nilai dan norma serta ideologi dalam kehidupan sehari-sehari. 
Proses kaderisasi sendiri tidak dapat diutarakan dengan sederhana, karena berbicara kaderisasi melibatkan banyak unsur, unsure moral, unsure pola fikir dan masih banyak unsur-unsur yang lain.  Dalam historinya, PMII adalah organisasi yang sudah bisa dikatakan lama usianya. PMII lahir pada tahun 1961. PMII yang mana identik anggotanya adalah mahasiswa seharus nya tidak lepas dengan tradisi mahasiswa yakni membaca menulis dan diskusi.
Menilik fakta yang terjadi di lingkungan organisasi PMII metro masih sangat minim dengan aktifitas membaca, menulis dan diskusi. Fenomena ini dapat dilihat dengan diadakanya  pelatihan menulis opini yang diadakan oleh pengurus cabang.
Dengan realita rekrutmen yang diadakan oleh setiap peng…

Menyoal Opini Publik yang Itu-itu Saja

Sudah sekitar satu bulan lebih publik Indonesia diramaikan dengan peristiwa aksi yang digelar oleh jutaan rakyat. Aksi masa yang berlabel “Aksi Bela Islam” ini setiap hari berita dan opininya sesak menjejali media.

Peristiwa aksi massa ini memang sangat fenomenal dan jarang terjadi ditambah melibatkan banyak aktor penting di dalamnya. Namun berjejalnya berita dan opini setiap hari di media, kian membuat sumpek dan jenuh seperti sudah tidak ada lagi tema lain yang bisa dijadikan berita atau opini.

Sudah tidak terhitung lagi berapa juta rangkian kata yang terpakai hanya untuk mengomentari aksi massa ini. Media sosial, portal berita daring dan wadah bagi penulis amatir seperti saya setiap hari membicarakan masalah yang sama, masalah yang itu-itu saja. Dari pagi sampai malam sampai pagi lagi, masih banyak saja yang melontarkan komentar tentang “Aksi Bela Islam” tersebut.

Komentarnya mulai dari yang murni kontra, pura-pura kontra biar terlihat berbeda, ada juga yang murni setuju dan banya…