Langsung ke konten utama

Menjadi Neraka demi Surga


Anda tentu pernah mendengar sebuah cerita kiasan tentang seorang pengusaha sukses yang mencoba meyakinkan seorang nelayan miskin untuk beralih profesi dan menjalani hidup seperti dirinya. Ia sudah kepalang yakin, hanya dengan menjadi seperti dirinya, kebahagiaan adalah ujungnya.

Kepada si nelayan, sang pengusaha meyakinkan bahwa hanya dengan menjadi pengusaha, maka semua yang diinginkan oleh si nelayan akan terkabulkan.

“Coba kalau Anda mau jadi pengusaha, Anda tentu bisa memiliki hari tua yang menyenangkan,” katanya penuh bangga.

“Apa maksudmu hari tua yang menyenangkan?”

“Dengan menjadi pengusaha, Anda bisa santai di hari tua,” katanya sambil berusaha menyembunyikan perut yang membuncah sombong menerjang sabuk di celana mahalnya.

“Tapi saya sudah santai sekarang,” sela nelayan.

“Tapi, kebahagiaan Anda belum sempurna. Kalau jadi pengusaha, Anda bisa pensiun di usia 50 tahun. Anda bisa menghabiskan lebih banyak waktu bersama keluarga. Bermain gitar di sore hari, tidur tenang di siang hari, dan seterusnya.”

“Untuk apa?"

“Tentu untuk menikmati hidup.”

“Bukan, maksud saya, untuk apa saya harus bersusah payah hingga usia 50 tahun demi mendapat segala kenikmatan yang bisa saya dapatkan sekarang?”

Kali ini, si pengusaha diam sejenak. Sebelum ia sempat menjawab, si nelayan melanjutkan kata-katanya.

“Saat ini, saya bisa tidur siang dengan tenang, bermain gitar di sore hari, dan tentu saja, saya punya banyak waktu untuk keluarga.”

“Tapi, Anda bukan pengusaha! Hanya pengusaha yang tahu makna santai,” tegas si pengusaha tak terima.

Setiap kali saya ingat cerita di atas, setiap kali itu pula saya ingat betapa banyak penyiar agama yang ngeyel dan bandel seperti si pengusaha di atas. Dengan berbagai cara, mereka meyakinkan banyak orang bahwa mereka belum ada di surga.

Di kepalanya, surga yang berisi segala macam keindahan itu hanya bisa digapai usai kematian. Artinya, selama Anda masih hidup, selama itu pula Anda tak akan pernah tahu rasanya surga.

Di surga, para penyiar agama kerap menyebut ada banyak kebahagiaan. Ada sungai yang terus mengalir, airnya bersih, tak berbau, tak hitam, dan karenanya tak memerlukan waring atau cat warna-warni untuk menutupinya. 

Di surga, konon ada pula buah-buahan segar yang selalu siap disantap kapan saja. Di surga, ada banyak keindahan yang katanya, tak ada di dunia ini.

Sama seperti si pengusaha dalam cerita di atas, tak sedikit penyiar agama yang mengajak kita bersusah payah untuk melupakan surga yang telah ada di depan mata demi sebuah gambaran surga yang entah ada di mana.

Jika hanya untuk mendapat buah-buahan segar dan sungai yang mengalir lancar, kenapa kita harus menunggu hidup usai kematian? Sama seperti pertanyaan si nelayan, hanya agar bisa tidur tenang di siang hari dan main gitar di sore hari, kenapa harus jadi pengusaha dan pensiun di usia 50 tahun? Toh, sekarang ia sudah bisa mendapatkan semua gambaran kebahagiaan itu.

Bagaimana jika surga yang dibayangkan baru ada di kehidupan setelah kematian itu ternyata sudah ada sekarang? Tepat di depan mata kita. Bagaimana jika kita tak perlu menunggu mati hanya demi merasakan surga?

Jika Anda tipe nelayan seperti cerita di atas, Anda tentu akan meninggalkan si pengusaha lengkap dengan semua bualannya tentang pensiun dan hari tua yang santai. Anda tahu, surga sudah ada di sini, tak perlu menunggu mati. Yang perlu Anda lakukan hanyalah menikmati surga yang sudah ada, jangan merusaknya.

Namun, jika Anda tipe pengusaha seperti cerita di atas, Anda akan menutup mata terhadap surga yang sudah ada di depan mata dan memilih bersusah payah demi bisa ‘santai’ di kemudian hari, setelah mati.

Tak jarang, demi mendapat surga seperti yang dibayangkan, tipe-tipe pengusaha rela menjadi neraka, tak hanya untuk dirinya, tetapi juga untuk orang lain di sekitarnya. Ia akan menyalahkan siapa saja yang tak mau beralih profesi dan menjalani hidup seperti dirinya. Baginya, tak ada jalan menuju surga selain dengan menjadi pengusaha.

Tak jarang pula, hubungan baik dengan orang lain diabaikan demi surga yang diidamkan. Kebahagiaan yang ada di depan mata tak pernah dirasakan dengan seksama, semua ini dianggap hanya sementara dan tak sesuai dengan prinsip ala ‘pengusaha’. Tak boleh bahagia sekarang; harus ditunda, demi kebahagiaan di hari tua.

Bagi yang tak sabar ingin segera menjemput surga dengan cara instan, kesehatan mental dan keseimbangan otak kerap mengalami kerusakan. Tak bisa berpikir waras, kepala terlalu mendongak ke atas.  

Tipe-tipe ala pengusaha mental pensiunan juga cenderung bahagia atas penderitaan atau musibah yang dialami orang lain yang bukan pengusaha. Karenanya tak heran, orang-orang tipe ini sering tak waras. Menyebut penderitaan orang lain sebagai azab, namun meyakini bom bunuh diri dan kebiasaan mengkafirkan sebagai jihad.

Berhentilah jadi neraka, surga sudah ada di depan mata.
___
Penulis: Khoirul Anam
Sumber: Qureta.com

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perkuat Semangat Kebangsaan Pemuda dalam Pembangunan Infrastruktur, PC PMII Metro Gelar Diskusi Di Aula Pusda

METRO - Senin (21/01), Tingkatkan semangat kebangsaan bagi generasi muda dalam pembangunan infrastruktur, Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PC PMII) Metro bersama Dinas Pekerjaan Umum (PU) gelar Diskusi Mahasiswa di Aula Dinas Perpustakaan Daerah (Pusda), Metro.
Melalui tema: Memperkuat Semangat Kebangsaan Bagi Generasi Muda dalam Mendukung Pembangunan Infrastruktur, ketua pelaksana, Triyo Pambudi, menyampaikan bahwa kegiatan tersebut bertujuan agar para pemuda khususnya mahasiswa lebih semangat giat berdiskusi, lebih mampu melek hingga mampu mengawal perkembangan infrastruktur di kota dan sadar akan peran pentingnya.
"Ini merupakan ruang untuk membudayakan  diskusi bagi pemuda. Sebagai pemuda khususnya mahasiswa kita juga harus sadar akan pentingnya pembangunan dan mampu mengawal setiap perkembangan infrastruktur di kota ini, sebab sebagai agent of change kita tidak hanya terus fokus duduk dibangku perkuliahan," ujarnya.
Selain itu, ketua umum PC PMII Me…

Pengurus Cabang PMII Metro 2018-2019 Resmi Dilantik

Metro - Minggu (07/04), Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PC PMII)  Metro Periode 2018-2019 telah resmi dilantik. Pelantikan ini dilaksanakan di Aula PGSD Unila Metro Selatan.
Kegiatan yang juga dirangkai dengan Festival Budaya Nusantara ini dimulai pukul 08.00 WIB dengan mengusung tema Meneguhkan Nilai-Nilai Budaya Nusantara Demi Menjaga Keutuhan Bangsa di Era Millenial. 
Bayu Sagara selaku ketua pelaksana mengucapkan terima kasih kepada  Pemerintah Kota Metro, Pengurus Besar (PB) PMII, para alumni, panitia dan para tamu undangan, yang telah berkenan hadir dalam acara tersebut.
Ahmad Sabiqul Mustofa selaku Ketua PC PMII Kota Metro juga mengucapkan terima kasih  kepada para hadirin dan panitia yang sudah membantu memaksimalkan kegiatan tersebut.
"Ada 48 Pengurus yang hari ini dilantik.  Dengan mengangkat tema tersebut, kami PC PMII Metro Masa Khidmat 2018-2019, melihat di Era millenial ini banyak generasi yang aktifitasnya tidak bisa lepas menggunakan gadget d…

Wiji Thukul dan Puisinya

TIDAK  ada yang lebih menakutkan Orde Baru daripada Pramoedya Ananta Toer yang kreatif dan Wiji Thukul yang miskin dan bertubuh kurus kering yang seumur hidup bernaung di bawah atap rumah petak di sudut gelap kota Solo (Daniel Dhakidae). Untuk yang pertama disebutkan di atas, tidak ada penerbit yang bersedia menerbitkan karya-karyanya. Pramoedya yang “hanya” penulis roman menjadi “musuh” bersama ketika Orde Baru masih berkuasa. Tidak cukup hanya itu saja.

Banyak naskah-naskah Pram (sebutan untuk Pramoedya) dibakar oleh kekuasaan fasis Orde Baru. Ini membuat Pram, dan juga bangsa ini, kehilangan harta paling berharga yang dia punya. Semua karyanya dilarang beredar. Tidak ada satu pun toko buku yang berani menjual bukunya. Sekolah-sekolah di negeri ini nyaris tidak pernah membahas karyanya. Tuduhan subversi (tindakan mengancam keselamatan negara) dilayangkan bagi siapa saja yang ketahuan membaca buku Pram. Wiji Thukul mengalami hal yang kira-kira sama dengan apa yang dialami Pram.

Kala…