Langsung ke konten utama

Menyoal Opini Publik yang Itu-itu Saja


Sudah sekitar satu bulan lebih publik Indonesia diramaikan dengan peristiwa aksi yang digelar oleh jutaan rakyat. Aksi masa yang berlabel “Aksi Bela Islam” ini setiap hari berita dan opininya sesak menjejali media.

Peristiwa aksi massa ini memang sangat fenomenal dan jarang terjadi ditambah melibatkan banyak aktor penting di dalamnya. Namun berjejalnya berita dan opini setiap hari di media, kian membuat sumpek dan jenuh seperti sudah tidak ada lagi tema lain yang bisa dijadikan berita atau opini.

Sudah tidak terhitung lagi berapa juta rangkian kata yang terpakai hanya untuk mengomentari aksi massa ini. Media sosial, portal berita daring dan wadah bagi penulis amatir seperti saya setiap hari membicarakan masalah yang sama, masalah yang itu-itu saja. Dari pagi sampai malam sampai pagi lagi, masih banyak saja yang melontarkan komentar tentang “Aksi Bela Islam” tersebut.

Komentarnya mulai dari yang murni kontra, pura-pura kontra biar terlihat berbeda, ada juga yang murni setuju dan banyak juga yang pura-pura setuju dengan aksi bela Islam itu. Parahnya lagi banyak opini yang dibuat berbeda dan terkesan vulgar hanya untuk mendapatkan perhatian yang berlebih.

Awalnya memang menggairahkan dan menggugah hati untuk memberikan komentar, tapi lama-lama bosan juga. Kita seolah melupakan ratusan masalah lain yang medera negara kita ini, coba lihat kembali koran atau portal berita yang berkualitas, di dalamnya masih banyak berita peristiwa lain yang perlu juga mendapatkan perhatian.

Baru kemarin Rabu Kabupaten Pidie Jaya, Provinsi Aceh terkena musibah gempa bumi banyak korban berjatuhan, alangkah baiknya jika opini dan berita publik lebih mengalihkan dahulu perhatiannya ke sana.

Perhatian pemberitaan dan opini dialihkan separuhnya ke sana. Biarkan saja kasus “Ahok” terlebih dahulu, karena kita harus sama-sama percaya kalau dia memang sedang diproses oleh pihak yang berwenang.

Selain itu peristiwa-peristiwa lain juga kerap memenuhi kolom berita, kasus korupsi masih setia setiap hari menempati salah satu kolom berita, upaya peningkatan kedaulatan pangan juga hampir setiap hari bercokol teguh di surat kabar dan hubungan internasional antara Indonesia dengan negara lain pasti diberitakan setiap hari.

Wahai para komentator dan para penulis opini, perbaruilah tema-tema komentar dan tulisannya masih banyak hal yang perlu kita amati, perlu kita kritisi. Opinion war atau dialektika opini yang kita bangun bersama akan mengkonstruksi sebuah bangunan yang tinggi, dan wujud dari bangunan itu tergantung dengan opini yang kita buat, buatlah bangunan yang bermanfaat dan tidak mendatangkan mudarat.

Tema “Aksi Bela Islam” bersama para aktornya bukan sebuah agenda wajib yang mengharuskan semuanya untuk terlibat meluncurkan komentar, karena semakin banyak komentar dan atau komunikasi yang terbangun tidak akan menjadi “situasi perbincangan ideal” jika komunikasi dan komentar yang kita bangun salah dalam menggarapnya, begitu yang dikatakan oleh Jurgen Habermas.

Dengan adanya tema “Aksi Bela Islam” dan hal-hal lain yang mengikutinya seolah telah berhasil membatasi kreativitas kita sebagai manusia yang mempunyai potensi kreatifitas yang tinggi. Komentar kita dengan tema yang sama maka menyamakan kita dengan manusia berkacamata kuda, hal-hal lain yang juga penting tidak dilihat sebagai hal yang penting.

Jika memang kita mengakui bahwa manusia adalah makhluk Tuhan yang paling kreatif, maka kita harus keluar dari zona kaku yang sepertinya akan segera kadaluarsa ini. Angkatlah tema-tema lain yang lebih segar, lebih seksi dan masih perawan.

Luasnya negara Indonesia dan beragamnya manusia Indonesia menjadi sumber inspirasi untuk kita berkomentar atau sekedar memberikan opini kecil dan jauhilah kepura-puraan dalam berkomentar dan beropini karena kepura-puraan hanya membawa kita kepada kesadaran palsu!
___
Penulis: Irvan Hidayat
Sumber: Qureta

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Wiji Thukul dan Puisinya

TIDAK  ada yang lebih menakutkan Orde Baru daripada Pramoedya Ananta Toer yang kreatif dan Wiji Thukul yang miskin dan bertubuh kurus kering yang seumur hidup bernaung di bawah atap rumah petak di sudut gelap kota Solo (Daniel Dhakidae). Untuk yang pertama disebutkan di atas, tidak ada penerbit yang bersedia menerbitkan karya-karyanya. Pramoedya yang “hanya” penulis roman menjadi “musuh” bersama ketika Orde Baru masih berkuasa. Tidak cukup hanya itu saja.

Banyak naskah-naskah Pram (sebutan untuk Pramoedya) dibakar oleh kekuasaan fasis Orde Baru. Ini membuat Pram, dan juga bangsa ini, kehilangan harta paling berharga yang dia punya. Semua karyanya dilarang beredar. Tidak ada satu pun toko buku yang berani menjual bukunya. Sekolah-sekolah di negeri ini nyaris tidak pernah membahas karyanya. Tuduhan subversi (tindakan mengancam keselamatan negara) dilayangkan bagi siapa saja yang ketahuan membaca buku Pram. Wiji Thukul mengalami hal yang kira-kira sama dengan apa yang dialami Pram.

Kala…

Degradasi Kader PMII Di Bidang Menulis

PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia) merupakan organisasi yang basisnya adalah kederisasi, artinya proses menggodok kader atau anggota yang telah mengikuti proses MAPABA dan PKD dapat mengimplementasi nilai dan norma serta ideologi dalam kehidupan sehari-sehari. 
Proses kaderisasi sendiri tidak dapat diutarakan dengan sederhana, karena berbicara kaderisasi melibatkan banyak unsur, unsure moral, unsure pola fikir dan masih banyak unsur-unsur yang lain.  Dalam historinya, PMII adalah organisasi yang sudah bisa dikatakan lama usianya. PMII lahir pada tahun 1961. PMII yang mana identik anggotanya adalah mahasiswa seharus nya tidak lepas dengan tradisi mahasiswa yakni membaca menulis dan diskusi.
Menilik fakta yang terjadi di lingkungan organisasi PMII metro masih sangat minim dengan aktifitas membaca, menulis dan diskusi. Fenomena ini dapat dilihat dengan diadakanya  pelatihan menulis opini yang diadakan oleh pengurus cabang.
Dengan realita rekrutmen yang diadakan oleh setiap peng…