Langsung ke konten utama

Menyusui sebagai Fondasi Kehidupan


BREASTFEEDING: Foundation of Life, begitulah tema Pekan ASI Sedunia yang diangkat tahun ini. Tema yang sungguh luar biasa jika kita terjemahkan menjadi Menyusui: Fondasi Kehidupan. Pekan ASI Sedunia yang diperingati pada 1—7 Agustus dapat menjadi momentum evaluasi sejauh mana supporting system menyusui sudah terbangun di setiap negara.

Jika melihat profil kesehatan Indonesia tahun 2017, bayi yang baru melahirkan mendapatkan inisiasi menyusu dini (IMD) seluruh Indonesia hanya 6,65%, sementara untuk Lampung sendiri hanya 3,03%. Untuk jumlah bayi yang mendapatkan ASI eksklusif sampai dengan enam bulan seluruh Indonesia 35,73%, sedangkan untuk Lampung hanya 32,21%.

Masalah dan Dukungan Menyusui

Data tersebut dapat menjadi bahan evaluasi mengapa angka menyusui di Indonesia, khususnya di Lampung, belum sesuai target dalam renstra Kementerian Kesehatan yang dikeluarkan melalui Kepmenkes No. HK.02.02/Menkes/52/2015. Target persentase bayi usia kurang dari 6 bulan mendapatkan ASI eksklusif untuk tahun 2017 sebesar 44% dan target persentase bayi yang baru lahir mendapatkan IMD tahun 2017 sebesar 44%, sehingga dapat memproyeksikan apa saja yang harus dilakukan untuk mencapai target tersebut.

Permasalahan target cakupan pemberian ASI ini juga menjadi rekomendasi yang dibahas dalam Musyawarah Nasional Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia Ke-2 yang dilaksanakan pada 2—5 Agustus 2018 di Makassar, Sulawesi Selatan.

Selama ini, menyusui masih dianggap hal yang alamiah sehingga tidak perlu dipersiapkan. Tidak semua ibu memiliki kesempatan untuk mempersiapkan diri agar sukses menyusui. Hal ini menjadi masalah utama sehingga saat ibu mengalami kendala atau tantangan menyusui, ibu dan keluarga tidak mengetahui harus bagaimana menghadapinya.

Kemudian, saat kendala atau tantangan menyusui dihadapi, ibu dan keluarga langsung panik dan menyerah pada susu formula. Padahal, susu formula seharusnya hanya diberikan saat ibu atau bayi memiliki indikasi medis sehingga tidak dapat menyusui/menyusu. Hal-hal tersebut sebenarnya bisa diantisipasi bila saat sebelum proses kehamilan atau persalinan ibu sudah mulai mengikuti kelas edukasi yang memudahkan ibu mendapat informasi tentang menyusui.

Belum lagi jika kita bicara dukungan fasilitas kesehatan dan tenaga kesehatan. Dari data itu, kita bisa melihat rendahnya angka IMD. Hal ini menunjukkan belum banyak fasilitas kesehatan dan tenaga kesehatan yang menerapkan 10 Langkah Menuju Kesuksesan Menyusui (LMKM), salah satunya melaksanakan kontak kulit dan IMD minimal selama satu jam segera setelah persalinan.

Untuk dukungan dalam bentuk regulasi sudah dikeluarkan pemerintah melalui UU No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan, PP 33 Tahun 2012 tentang Pemberian ASI Eksklusif, dan untuk di Lampung sudah ada Perda No. 17 Tahun 2014 tentang Pemberian ASI Eksklusif. Namun, dukungan dalam bentuk regulasi juga harus dibarengi dengan pengawasan dalam implementasinya dan penerapan sanksi yang tegas sehingga berjalan efektif.

Satu hal yang penting yang diatur dalam Pasal 17 PP 33 Tahun 2012 tentang Pemberian ASI Eksklusif adalah larangan setiap tenaga kesehatan memberikan susu formula bayi dan/atau produk bayi lainnya yang dapat menghambat program pemberian ASI eksklusif, kecuali dalam hal diperuntukkan karena adanya indikasi medis, ibu tidak ada, dan ibu terpisah dari bayi.

Setiap tenaga kesehatan juga dilarang menerima dan/atau mempromosikan susu formula bayi dan/atau produk bayi lainnya yang dapat menghambat program pemberian ASI eksklusif. Maka, dengan regulasi tersebut, para ibu menyusui dan keluarga memiliki perlindungan hukum untuk menuntut haknya saat ada fasilitas kesehatan atau tenaga kesehatan tidak menjalani regulasi tersebut.

Supporting System Menyusui

Jika bicara supporting system menyusui, ada banyak yang harus diterapkan. Mulai dari dukungan pemerintah dalam bentuk regulasi dan pengawasannya, penyediaan tenaga kesehatan yang berkompeten terkait permasalahan menyusui, penyediaan sarana, prasarana, dan fasilitas kesehatan pendukung menyusui, serta dukungan dari masyarakat, salah satunya dukungan dari Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) sebagai organisasi pendukung ibu menyusui.

AIMI sebagai sebuah organisasi nirlaba yang memberikan dukungan kepada ibu menyusui menilai penting sekali untuk mempersiapkan proses menyusui sebelum proses persalinan. Untuk itu, AIMI memfasilitasi dengan berbagai kegiatan salah satunya kelas edukasi menyusui. AIMI yang saat ini sudah berkembang dengan adanya AIMI beberapa provinsi, termasuk di Lampung.

Di Lampung masih minim tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi dalam permasalahan menyusui. Banyak permasalahan menyusui yang dihadapi klien AIMI Daerah Lampung yang membutuhkan kompetensi tenaga kesehatan karena ada indikasi medis sehingga harus ada tindakan medis, tetapi hal ini belum bisa difasilitasi secara optimal.

Indikasi medis yang menyebabkan kesulitan menyusui, misalnya saat bayi memiliki masalah lip tie dan tongue tie. Maka, AIMI Daerah Lampung kesulitan untuk dapat merekomendasikan klinik laktasi dengan tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi sebagai konselor atau konsultan menyusui yang dapat membantu mengatasi indikasi media tersebut. Hal ini perlu menjadi perhatian pemerintah daerah untuk mendorong fasilitas kesehatan menyediakan klinik laktasi dan tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi sebagai konselor/konsultan menyusui.

Fondasi Kehidupan

Tema Menyusui Fondasi Kehidupan memiliki makna luas. Untuk itu, saat awal-awal persalinan, menyusui harus menjadi satu-satunya proses pemberian makan pada bayi dan pembentukan bonding antara Ibu dan bayi.

Menyusui juga memegang andil dalam memutus rantai kemiskinan, karena tidak membutuhkan biaya untuk memberikannya kepada bayi karena tidak ada beban tambahan pada anggaran rumah tangga. Menyusui merupakan cara yang terjangkau agar bayi mendapatkan nutrisi yang dibutuhkan serta membantu mengurangi angka kemiskinan. Berbagai manfaat ASI eksklusif antara lain memiliki kontribusi yang besar terhadap tumbuh kembang dan daya tahan tubuh anak. Anak yang diberi ASI eksklusif akan tumbuh dan berkembang optimal dan tidak mudah sakit.

Kajian global The Lancet Breastfeeding Series 2016 telah membuktikan menyusui eksklusif menurunkan angka kematian karena infeksi sebanyak 88% pada bayi berusia kurang dari tiga bulan. Lalu, sebanyak 31,36% (82%) dari 37,94% anak sakit karena dak menerima ASI ekslusif. Investasi dalam pencegahan BBLR, stunting, dan meningkatkan IMD dan ASI eksklusif berkontribusi dalam menurunkan risiko obesitas dan penyakit kronis (Patal, 2013). Tidak menyusui berhubungan dengan kehilangan nilai ekonomi sekitar 302 miliar dolar AS setiap tahunnya atau sebesar 0%—49% dari pendapatan nasional bruto (Lancet, 2016).

Dengan tema Pekan ASI Sedunia 2018 Menyusui Fondasi Kehidupan, diharapkan pengetahuan masyarakat mengenai dampak positif menyusui makin meningkat, sehingga seluruh ibu di seluruh dunia mau menyusui bayinya dan mendapatkan dukungan dari pihak-pihak terkait mulai dari keluarga, masyarakat, dan pemerintah/negara. Agar menyusui dapat menjadi fondasi kehidupan diperlukan gerakan bersama dari seluruh pemangku kepentingan pendukung ibu menyusui.

Menyusui menjadi salah satu solusi untuk mengatasi masalah kelaparan dan malanutrisi. Asupan nutrisi, jaminan ketersediaan makanan, dan penurunan kemiskinan merupakan salah satu kunci untuk mencapai sustainable development goals (SDG). Maka, jika seluruh sistem pendukung sudah berjalan, mudah bagi kita untuk bisa membangun fondasi kehidupan melalui gerakan bersama untuk menyukseskan program menyusui.
___
Penulis: Upi Fitriyani, Ketua Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) Daerah Lampung
Sumber: Koran Lampung Post

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Wiji Thukul dan Puisinya

TIDAK  ada yang lebih menakutkan Orde Baru daripada Pramoedya Ananta Toer yang kreatif dan Wiji Thukul yang miskin dan bertubuh kurus kering yang seumur hidup bernaung di bawah atap rumah petak di sudut gelap kota Solo (Daniel Dhakidae). Untuk yang pertama disebutkan di atas, tidak ada penerbit yang bersedia menerbitkan karya-karyanya. Pramoedya yang “hanya” penulis roman menjadi “musuh” bersama ketika Orde Baru masih berkuasa. Tidak cukup hanya itu saja.

Banyak naskah-naskah Pram (sebutan untuk Pramoedya) dibakar oleh kekuasaan fasis Orde Baru. Ini membuat Pram, dan juga bangsa ini, kehilangan harta paling berharga yang dia punya. Semua karyanya dilarang beredar. Tidak ada satu pun toko buku yang berani menjual bukunya. Sekolah-sekolah di negeri ini nyaris tidak pernah membahas karyanya. Tuduhan subversi (tindakan mengancam keselamatan negara) dilayangkan bagi siapa saja yang ketahuan membaca buku Pram. Wiji Thukul mengalami hal yang kira-kira sama dengan apa yang dialami Pram.

Kala…

Degradasi Kader PMII Di Bidang Menulis

PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia) merupakan organisasi yang basisnya adalah kederisasi, artinya proses menggodok kader atau anggota yang telah mengikuti proses MAPABA dan PKD dapat mengimplementasi nilai dan norma serta ideologi dalam kehidupan sehari-sehari. 
Proses kaderisasi sendiri tidak dapat diutarakan dengan sederhana, karena berbicara kaderisasi melibatkan banyak unsur, unsure moral, unsure pola fikir dan masih banyak unsur-unsur yang lain.  Dalam historinya, PMII adalah organisasi yang sudah bisa dikatakan lama usianya. PMII lahir pada tahun 1961. PMII yang mana identik anggotanya adalah mahasiswa seharus nya tidak lepas dengan tradisi mahasiswa yakni membaca menulis dan diskusi.
Menilik fakta yang terjadi di lingkungan organisasi PMII metro masih sangat minim dengan aktifitas membaca, menulis dan diskusi. Fenomena ini dapat dilihat dengan diadakanya  pelatihan menulis opini yang diadakan oleh pengurus cabang.
Dengan realita rekrutmen yang diadakan oleh setiap peng…

Menyoal Opini Publik yang Itu-itu Saja

Sudah sekitar satu bulan lebih publik Indonesia diramaikan dengan peristiwa aksi yang digelar oleh jutaan rakyat. Aksi masa yang berlabel “Aksi Bela Islam” ini setiap hari berita dan opininya sesak menjejali media.

Peristiwa aksi massa ini memang sangat fenomenal dan jarang terjadi ditambah melibatkan banyak aktor penting di dalamnya. Namun berjejalnya berita dan opini setiap hari di media, kian membuat sumpek dan jenuh seperti sudah tidak ada lagi tema lain yang bisa dijadikan berita atau opini.

Sudah tidak terhitung lagi berapa juta rangkian kata yang terpakai hanya untuk mengomentari aksi massa ini. Media sosial, portal berita daring dan wadah bagi penulis amatir seperti saya setiap hari membicarakan masalah yang sama, masalah yang itu-itu saja. Dari pagi sampai malam sampai pagi lagi, masih banyak saja yang melontarkan komentar tentang “Aksi Bela Islam” tersebut.

Komentarnya mulai dari yang murni kontra, pura-pura kontra biar terlihat berbeda, ada juga yang murni setuju dan banya…