Langsung ke konten utama

Minum Kopi Sebagai Sebuah Fiksi



Di manapun Anda pergi mengunjungi kota-kota di seluruh dunia, pemandangan ini akan tampak menonjol: orang-orang duduk-dukuk santai di café, restoran, atau tempat lain, menikmati kopi, teh, atau minuman lain, tak mengerjakan apapun kecuali ngobrol (kerap tanpa tujuan dan tema yang jelas), bersama orang-orang lain yang terikat dalam sebuah “camaradeship”, persahabatan.

Bahkan kegiatan santai-tak-bertujuan ini menjadi ladang bisnis besar di kota-kota modern. Perusahaan waralaba warung kopi dengan jaringan global seperti Starbucks, pada dasarnya, hidup dan meraup keuntungan besar dari kegiatan orang-orang yang ingin menikmati waktu senggang dengan duduk-duduk tanpa tujuan jelas ini. What a pathetic business!

Ribuan café, warung kopi, dan tempat-tempat “nongkrong” lain menjamur di seluruh kota di dunia untuk memenuhi life-style manusia modern ini. Kegiatan ini sering disebut “hanging out” (secara harafiah: gantung diri di luar). Kita menyebutnya di sini: nongkrong. Saya sering melakukan kegiatan ini, dan seraya nongkrong, selalu tertarik untuk memikirkan: dari mana asal-usul kegiatan yang menggelikan ini?

Kegiatan nongkrong tentu saja bukan monopoli masyarakat perkotaan. Di desa, kegiatan semacam ini sudah ada sejak dulu: orang-orang berkumpul, ngobrol santai di kedai kopi, membicarakan apa saja, mulai dari gosip desa, hingga percaturan politik di Jakarta.

Tetapi kegiatan nongkrong di desa, sebagaimana saya saksikan dulupada dekade 70an dan 80an, tak berlangsung dalam intensitas seperti yang saya lihat di kota-kota besar seperti Jakarta, misalnya. Bahkan ada semacam persepsi, terutama di kalangan masyarakat santri di mana saya tumbuh, bahwa nongkrong bukanlah kegiatan yang dari sudut agama dipandang baik.

Dulu di pesantren, saya kerap mendapatkan petuah bahwa sebaiknya seorang santri menjauhi kegiatan yang sia-sia seperti nongkrong ini. Kegiatan ini, dalam pandangan masyarakat santri di kampung saya dulu, dipandang kurang baik karena cepat atau lambat akan berujung pada hal yang dilarang oleh agama: ghibah atau ngegosip -- membicarakan hal-hal buruk mengenai orang lain.

Hingga sekarang pun, di kampung saya di Pati, Jawa Tengah, kegiatan nongkrong belum merupakan pemandangan yang umum. Orang-orang masih cenderung memilih makan di rumah, menyantap masakan sendiri, ketimbang pergi ke warung untuk menikmati makan malam yang diikuti dengan ngobrol-santai-tanpa-tujuan seperti kita lihat di kota-kota besar.

Kalaupun makan di warung, mereka hanya duduk di sana beberapa saat saja sampai mereka selesai menyantap makanan, lalu pulang. Masih jarang saya melihat orang-orang menghabiskan waktu berjam-jam di warung makan atau kedai kopi. Kampung saya memang sangat didominasi oleh kultur santri. Saya kira, pandangan komunitas santri yang cenderung negatif pada kegiatan nongkrong, untuk sebagian, menjelaskan kenapa hingga sekarang kegiatan ini masih belum menjadi pemandangan umum.

Tetapi, merebak atau tidaknya kegiatan nongkrong, saya kira, terkait dengan konteks yang lebih luas. Bukan sekedar berhubungan dengan pandangan moralistik yang melihat kegiatan ini sebagai hal yang “morally inferior”. Kegiatan nongkrong hadir sebagai life-style baru di kota-kota besar karena terkait dengan corak ekonomi masyarakat urban, masyarakat modern.

Kemunculan nongkrong sebagai pemandangan yang massif di kota-kota besar Jakarta saat ini, setahu saya, belum terlalu lama. Saya menduga, ini terkait dengan makin membesarnya porsi kelas menengah di kota-kota besar kita sebagai akibat dari pertumbuhan ekonomi Indonesia yang cukup pesat sejak Orde Baru dulu. Kelas ini memiliki daya beli yang lebih baik, serta surplus penghasilan yang lumayan cukup untuk menikmati “leisure time”, waktu senggang, di warung-warung kopi.

Tekanan pekerjaan yang kian besar juga menjelaskan kenapa kegiatan ini muncul sebagai fenomena yang menonjol dalam masyarakat modern. Kegiatan nongkrong adalah cara kelas menengah melakukan relaksasi, menggatasi tekanan mental karena pekerjaan. Tak ada kebutuhan untuk menikmati waktu santai semacam ini di desa-desa dulu, karena tak ada tekanan pekerjaan seperti kita lihat di kota-kota. Waktu di desa berjalan seperti andong yang menyenangkan. Di kota, waktu berlari kencang, mencemaskan, seperti bus Metromini.

Tetapi ada segi lain dalam kehidupan masyarakat perkotaan yang bisa membantu menjelaskan kenapa nongkrong muncul sebagai gaya hidup yang dominan. Yaitu gejala orang-orang yang ingin menjalani kehidupan sebagai obyek kenikmatan estetis. Hidup dalam masyarakat urban-modern tak lagi dipandang sekedar sebagai keniscayaan belaka. Tetapi sesuatu yang secara estetis bisa dinikmati dengan pelbagai pilihan gaya hidup yang beragam.

Di kota-kota besar sekarang, kita mulai melihat gejala estetisasi atas kehidupan. Ia muncul dalam pelbagai ragam bentuk. Orang-orang tak sekedar ingin makan sebagai keniscayaan hidup untuk menghindarkan diri dari kelaparan yang mematikan. Mereka ingin makan dengan sebuah gaya – an eating with style.

Mereka tak sekedar ingin minum untuk menghalau haus, tetapi minum secara estetis. Mereka memilih minuman tertentu, dengan merek tertentu, yang memberikan kepada mereka sebuah fantasi tentang sesuatu yang lebih besar.

Apa yang ada di benak seseorang saat ia menenggak segelas kopi yang disajikan oleh warung waralaba global seperti Starbucks? Saat meminum kopi Starbucks yang rasanya tak terlalu spesial itu (masih lebih enak kopi buatan ibu mertua saya di Rembang!), mungkin seseorang merasa telah menjadi bagian dari warga dunia. Dia tak sekedar minum kopi, tetapi ia minum kopi secara estetis agar menjadi bagian dari gaya hidup mondial. Ia minum kopi dengan sebuah fiksi!

Di masyarakat urban, tampaknya kehidupan dijalani bukan sekedar sebagai fakta saja, tetapi juga sebuah fantasi. Teori Ben Anderson tentang “masyarakat yang dibayangkan” (imagined communities) bisa kita pakai sebagai alat bantu analisis di sini. Gaya hidup estetis terjadi saat seseorang menjalani sebuah kehidupan seraya membayangkan bahwa ia menjadi bagian dari komunitas estetis tertentu yang berada dalam bayangan saja. A virtual life.

Saat seseorang memakai jam tangan, ia tak sekedar membutuhkan sebuah alat untuk menandai waktu. Ia, seraya memakai jam tangan merek tertentu, sebut saja Rolex, sedang membayangkan diri menjadi bagian dari kelas sosial yang menikmati gaya hidup estetis ini.

Produsen barang-barang modern, dengan cerdik, juga mencoba melayani kebutuhan akan fantasi estetik pada masyarakat modern ini. Jam Rolex, misalnya, menjajakan diri sebagai alat yang (seperti bisa kita lihat di iklannya) bukan sekedar menandai waktu (tells the time), tetapi juga mengisahkan sebuah sejarah – it tells the history.

Sejarawan Israel Yuval Harari (bukunya Sapiens: A Brief History of Humankind sedang laris saat ini) menjelaskan gejala di atas dengan sangat baik. Salah satu ciri spesies manusia bernama homo sapiens (secara harafiah: manusia bijak), kata Harari, adalah kemampuannya untuk hidup dalam dua lapisan kenyataan: kenyataan natural yang riil, dan kenyataan fiksional melalui sebuah bayangan tertentu yang ia bikin sendiri.

Kemampuan manusia sebagai “fiction-making being” ini tampil dalam bentuknya yang sangat sempurna melalui kecenderungan estetisasi kehidupan dalam masyarakat urban sekarang. Di warung-warung kopi seperti Starbucks, kita tak sekedar melihat makhluk-makhluk cantik dan ganteng yang sedang minum kopi, tetapi minum kopi dengan sebuah bayangan estetis tertentu di kepala mereka.Yang kita lihat sebetulnya adalah orang-orang yang sedang menyantap fiksi, bukan sekedar minum kopi.

Gejala estetisasi ini mengakibatkan munculnya gejala lian: kegiatan “menonton” orang-orang lain dari sebuah jarak – menonton orang-orang lain yang juga sedang menjalani kehidupan estetis yang sama. Ini bisa kita lihat dalam pemandangan seperti ini: orang-orang yang nongkrong di café, sambil mengamati orang-orang lain di sekitar, seraya mencari wajah-wajah yang “seemly”, enak dipandang. Menonton orang lain seraya nongkrong adalah tindakan yang pada dirinya mendatangkan rasa nyaman dan nikmat pada manusia-café.

Yang menarik adalah seraya seseorang memandang orang-orang lain, ia juga sadar bahwa dirinya juga menjadi sasaran pandangan orang lain. Dia sadar sebagai “seeing being” dan “being seen”, melihat dan dilihat sekaligus. Karena itu, setiap orang yang nongkrong pada dasarnya adalah performer, seorang penampil. Dia ingin tampil estetis, sebab ada subyek lain yang ingin melihatnya, menikmati kehadiran fisiknya.

Minum kopi dan nongkrong adalah gaya hidup masyarakat urban yang dalam dirinya terkandung sejumlah hal yang menarik. Ia mencerminkan gejala estetisasi kehidupan. Ia juga menjadi arena di mana orang-orang urban menumpahkan kegemaran yang nyaris pathetic untuk menjadikan segala hal sebagai obyek tontonan. Segala sesuatu, dalam masyarakat kota, adalah tontonan, spectacle. Dan setiap orang adalah spectator, penonton.

Kegiatan menonton dan memandang ini memicu lahirnyakesadaran tentang jarak dari realitas. Seseorang yang menjadikan segala hal disekitarnya sebagai “tontonan” tak beda jauh dengan seseorang yang pacaran, tapi tak mau terikat oleh lembaga perkawinan. Seorang penonton tak ingin terlibat dan tenggelam terlalu mendalam di dalam obyek yang ia tonton. Dia tetap ingin menjaga dirinya sebagai spectator yang berada di sebuah kejauhan. Sebab terlibat terlalu jauh mengandung konsekwensi moral yang cenderung dihindari.

Ini, antara lain, yang menjelaskan sebuah pemandangan yang pathetic di mana seseorang melihat kecelakaan di jalan, lalu sibuk mengambil foto si korban, mengunggahnya di media sosial. Dia tak merasa perlu terlibat jauh dalam pemandangan yang sedang ia tonton itu dengan menolong si korban. Dia hanya cukup menontonnya.

Dia merasa cukup menyatakan “keterlibatan emosionalnya”dengan mengirimkan gambar di Facebook, Instagram, Twitter atau platform lain, sembari membubuhkan komentar emosional: Biadab sekali ya si penabrak orang itu!Komentar ini sudah cukup membuat dirinya merasa bahwa dia telah bertanggung jawab sebagai seorang manusia yang bermoral.

Tindakan menonton ini, di mata saya, kadang berujung pada pemandangan yang sangat janggal. Bayangkan pemandangan berikut ini. Sebuah grup keagamaan yang memeragakan sebuah ritual tertentu, misalnya pembacaan salawat Nabi, tampil di panggung teater, di hadapan ratusan penonton yang menikmatinya sebagai tampilan yang estetis.

Di kampung dulu, saya tak pernah menonton seseorang membaca salawat Nabi. Orang-orang terlibat dan tenggelam di dalamnya, bukan menontonnya. Menonton orang sedang membaca salawat sama janggalnya dengan orang yang pergi ke Mekah bukan untuk haji atau umrah, tetapi menonton orang-orang yang melaksanakan ritual itu.

Hanya dalam masyarakat urban saya melihat sebuah ritual keagamaan ditampilkan sebagai sebuah spectacle, sebagai tontonan, di hadapan pengunjung yang menikmatinya bukan seagai ritual yang melibatkan dirinya secara fisik dan mental. Tetapi sekedar sebuah tontonan yang ia lihat dari sebuah jarak.

The ethics of distance, etika memandang segala sesuatu dari sebuah jarak ini menandai gaya hidup baru di masyarakat urban. Semua orang cenderung menjadi “voyeur”, subyek yang melihat, dan melahirkan gejala voyeurism, kemenglihatanisme. Di warung kopi, kita menyaksikan gejala-gejala perkotaan ini tergelar dalam bentuknya yang sempurna.
___
Penulis : Ulil Abshar Abdalla, Founder Islamlib
Sumber: Qureta.com

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Wiji Thukul dan Puisinya

TIDAK  ada yang lebih menakutkan Orde Baru daripada Pramoedya Ananta Toer yang kreatif dan Wiji Thukul yang miskin dan bertubuh kurus kering yang seumur hidup bernaung di bawah atap rumah petak di sudut gelap kota Solo (Daniel Dhakidae). Untuk yang pertama disebutkan di atas, tidak ada penerbit yang bersedia menerbitkan karya-karyanya. Pramoedya yang “hanya” penulis roman menjadi “musuh” bersama ketika Orde Baru masih berkuasa. Tidak cukup hanya itu saja.

Banyak naskah-naskah Pram (sebutan untuk Pramoedya) dibakar oleh kekuasaan fasis Orde Baru. Ini membuat Pram, dan juga bangsa ini, kehilangan harta paling berharga yang dia punya. Semua karyanya dilarang beredar. Tidak ada satu pun toko buku yang berani menjual bukunya. Sekolah-sekolah di negeri ini nyaris tidak pernah membahas karyanya. Tuduhan subversi (tindakan mengancam keselamatan negara) dilayangkan bagi siapa saja yang ketahuan membaca buku Pram. Wiji Thukul mengalami hal yang kira-kira sama dengan apa yang dialami Pram.

Kala…

Degradasi Kader PMII Di Bidang Menulis

PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia) merupakan organisasi yang basisnya adalah kederisasi, artinya proses menggodok kader atau anggota yang telah mengikuti proses MAPABA dan PKD dapat mengimplementasi nilai dan norma serta ideologi dalam kehidupan sehari-sehari. 
Proses kaderisasi sendiri tidak dapat diutarakan dengan sederhana, karena berbicara kaderisasi melibatkan banyak unsur, unsure moral, unsure pola fikir dan masih banyak unsur-unsur yang lain.  Dalam historinya, PMII adalah organisasi yang sudah bisa dikatakan lama usianya. PMII lahir pada tahun 1961. PMII yang mana identik anggotanya adalah mahasiswa seharus nya tidak lepas dengan tradisi mahasiswa yakni membaca menulis dan diskusi.
Menilik fakta yang terjadi di lingkungan organisasi PMII metro masih sangat minim dengan aktifitas membaca, menulis dan diskusi. Fenomena ini dapat dilihat dengan diadakanya  pelatihan menulis opini yang diadakan oleh pengurus cabang.
Dengan realita rekrutmen yang diadakan oleh setiap peng…

Menyoal Opini Publik yang Itu-itu Saja

Sudah sekitar satu bulan lebih publik Indonesia diramaikan dengan peristiwa aksi yang digelar oleh jutaan rakyat. Aksi masa yang berlabel “Aksi Bela Islam” ini setiap hari berita dan opininya sesak menjejali media.

Peristiwa aksi massa ini memang sangat fenomenal dan jarang terjadi ditambah melibatkan banyak aktor penting di dalamnya. Namun berjejalnya berita dan opini setiap hari di media, kian membuat sumpek dan jenuh seperti sudah tidak ada lagi tema lain yang bisa dijadikan berita atau opini.

Sudah tidak terhitung lagi berapa juta rangkian kata yang terpakai hanya untuk mengomentari aksi massa ini. Media sosial, portal berita daring dan wadah bagi penulis amatir seperti saya setiap hari membicarakan masalah yang sama, masalah yang itu-itu saja. Dari pagi sampai malam sampai pagi lagi, masih banyak saja yang melontarkan komentar tentang “Aksi Bela Islam” tersebut.

Komentarnya mulai dari yang murni kontra, pura-pura kontra biar terlihat berbeda, ada juga yang murni setuju dan banya…