Langsung ke konten utama

Narasi Politik dan Pilpres 2019


Jika kita membahas mengenai Pemilihan Presiden tahun 2019 yang akan datang, banyak sekali perspektif yang dapat kita sampaikan dan diskusikan. Pilpres tahun depan menjadi menarik karena banyak sekali dinamika yang terjadi menjelang proses tersebut, dan menjadi lebih menarik karena di dalamnya disisipkan branding-branding politik oleh rezim yang hari ini berkuasa dan pihak oposisi.

Pada tulisan ini, penulis akan menarasikan mengapa narasi politik akan menjadi kunci kemenangan bagi para pasangan calon yang berlaga tahun depan.

Narasi Keagamaan Petahana

Selama 4 tahun kepemimpinan Jokowi-JK, isu keagamaan menjadi salah satu masalah yang cukup penting bagi pemerintah. Pada masa Jokowi-JK, banyak tuduhan yang menyatakan bahwa pemerintah saat ini adalah pemerintah yang jauh terhadap ulama dan nilai-nilai islam. Hal ini ditandai dengan pembubaran ormas HTI dan kriminalisasi terhadap ulama-ulama tertentu. 

Isu keagamaan ini juga menjadi gorengan empuk bagi pihak oposisi untuk menyerang pemerintah. Tidak heran jika kemudian hasil survei dari LSI menyatakan bahwa sebaiknya calon wakil presiden Jokowi berasal dari kalangan ulama dan paham akan persoalan keumatan.

Walaupun mengejutkan, penunjukan Rais Aam PBNU KH Maruf Amin menjadi cawapres Jokowi sebenarnya sudah dapat diprediksi sejak lama. Petahana pasti akan memilih pendamping yang dianggap mampu untuk menetralkan isu yang selama ini menyerang pemerintah. 

KH Maruf Amin merupakan ulama sepuh dan dihormati di Indonesia. Selain sebagai Rais Aam PBNU, KH Maruf Amin juga merupakan ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), berasal dari ormas islam terbesar, yakni Nahdlatul Ulama pastinya beliau akan mampu memberikan suntikan elektoral dan politik identitas yang sangat kuat bagi Jokowi.

Narasi politik yang dibangun oleh pasangan petahana pastinya mengenai narasi keagamaan dan keumatan. KH Maruf Amin dianggap sebagai representasi dari umat islam moderat yang dianggap mampu untuk menyatukan masyarakat yang hari ini terjebak dalam polarisasi pandangan politik yang sangat kuat. Selain itu, beliau juga mempunyai pengalaman panjang di bidang ekonomi syariah dan ekonomi keumatan. 

Penulis menganggap bahwa penunjukkan KH Maruf Amin sebagai Cawapres Jokowi merupakan counter attack sempurna kepada pihak oposisi. Dengan keadaan ini, Gerindra Cs harus menemukan alasan dan narasi politik yang lebih rasional dan meyakinkan sehingga dapat diterima oleh masyarakat daripada isu keagamaan dan tagar 2019 ganti presiden.

Narasi  Ekonomi dan Partai Emak-Emak Oposisi

Setelah calon petahana memilih ulama menjadi cawapresnya, Prabowo Subianto secara mengejutkan mendeklarasikan Sandiaga Uno sebagai Cawapresnya. Penunjukan Sandiaga yang saat itu masih menjadi wakil gubernur aktif DKI Jakarta boleh dibilang adalah kejutan besar dari pihak oposisi.

Selama ini, seperti yang kita ketahui, Gerindra selalu bersama-sama berkoalisi dengan PKS dan PKS pun telah menyodorkan 9 nama kader terbaiknya untuk mendampingi Prabowo. Namun kenyataannya tidak satupun dari nama tersebut yang dipilih oleh Prabowo.

Dipilihnya Sandiaga Uno mendampingi Prabowo membuat narasi politik yang dibangun menjadi berbeda. Isu ekonomi menjadi fokus dari pihak oposisi untuk ”berjualan” kepada masyarakat. 

Melihat kapasitas sang wakil, rasanya isu ekonomi bisa menjadi senjata yang cukup efektif untuk melawan petahana yang telah didukung oleh kekuatan politik elektoral dan identitas yang sangat kuat. Di tengah semakin melemahnya mata uang rupiah terhadap dolar Amerika Serikat, meningkatnya harga barang pokok serta semakin menggunungnya utang negara, membuat posisi tawar oposisi dalam hal ini lebih kuat dibandingkan petahana.

Isu ekonomi yang dibawa oleh oposisi membuat mereka mengklaim sebagai partai emak-emak. Hal ini tidak mengherankan karena isu ekonomi biasanya berkaitan dengan urusan dapur yang sewajarnya dilakukan oleh ibu rumah tangga. Kekuatan emak-emak ini tentunya juga harus diperhatikan oleh pemerintah.

Branding politik menjadi kunci untuk memenangkan pertarungan dalam pilpres tahun depan. Pihak mana yang mampu mengolah dan meyakinkan masyarakat dengan narasi politik yang mereka buat, maka akan mampu menguasai jalannya pertandingan.

Masing-masing pasangan calon sudah memiliki basis pemilih yang cukup jelas. Pasangan petahana pastinya akan di-back uppenuh oleh warga nahdliyin dan badan otonom NU lainnya. Namun yang perlu menjadi catatan adalah warga nahdliyin perlu memastikan bahwa kejadian pada pilpres 2004 tidak terulang ketika itu Ketum PBNU alm. KH Hasyim Muzadi yang berpasangan dengan Megawati dikalahkan oleh pasangan SBY-JK. 

Prabowo-Sandi dapat menggunakan isu ekonomi sebagai narasi politik utama yang dapat mereka sampaikan kepada masyarakat, yang tentunya disertai dengan visi dan solusi yang nyata. Karena selama ini narasi yang ditawarkan oleh pihak oposisi hanyalah sebatas narasi untuk menyerang petahana.

Apa pun pilihannya, tentulah kita semua berharap bahwa pemilihan presiden tahun depan dapat berjalan dengan baik sesuai dengan asas-asas demokrasi yang ada di negara kita ini. Kita sebagai masyarakat mempunyai tugas dan tanggung jawab moral untuk memastikan bahwa proses pesta demokrasi kita ini benar-benar menjadi pesta untuk kita semua, bukan hanya menjadi pesta untuk elite politik dan golongan tertentu saja.

Akhirnya, menjadi harapan penulis dan kita semua tentunya bahwa nantinya dalam proses demokrasi yang akan berlangsung nanti akan lahir pemimpin bangsa yang mau bekerja untuk rakyat dan benar-benar paham akan persoalan bangsa ini serta akan membawa bangsa ini ke arah yang lebih baik.
___
Penulis: Dheky R Abdillah
Sumber: Qureta

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perkuat Semangat Kebangsaan Pemuda dalam Pembangunan Infrastruktur, PC PMII Metro Gelar Diskusi Di Aula Pusda

METRO - Senin (21/01), Tingkatkan semangat kebangsaan bagi generasi muda dalam pembangunan infrastruktur, Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PC PMII) Metro bersama Dinas Pekerjaan Umum (PU) gelar Diskusi Mahasiswa di Aula Dinas Perpustakaan Daerah (Pusda), Metro.
Melalui tema: Memperkuat Semangat Kebangsaan Bagi Generasi Muda dalam Mendukung Pembangunan Infrastruktur, ketua pelaksana, Triyo Pambudi, menyampaikan bahwa kegiatan tersebut bertujuan agar para pemuda khususnya mahasiswa lebih semangat giat berdiskusi, lebih mampu melek hingga mampu mengawal perkembangan infrastruktur di kota dan sadar akan peran pentingnya.
"Ini merupakan ruang untuk membudayakan  diskusi bagi pemuda. Sebagai pemuda khususnya mahasiswa kita juga harus sadar akan pentingnya pembangunan dan mampu mengawal setiap perkembangan infrastruktur di kota ini, sebab sebagai agent of change kita tidak hanya terus fokus duduk dibangku perkuliahan," ujarnya.
Selain itu, ketua umum PC PMII Me…

Pengurus Cabang PMII Metro 2018-2019 Resmi Dilantik

Metro - Minggu (07/04), Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PC PMII)  Metro Periode 2018-2019 telah resmi dilantik. Pelantikan ini dilaksanakan di Aula PGSD Unila Metro Selatan.
Kegiatan yang juga dirangkai dengan Festival Budaya Nusantara ini dimulai pukul 08.00 WIB dengan mengusung tema Meneguhkan Nilai-Nilai Budaya Nusantara Demi Menjaga Keutuhan Bangsa di Era Millenial. 
Bayu Sagara selaku ketua pelaksana mengucapkan terima kasih kepada  Pemerintah Kota Metro, Pengurus Besar (PB) PMII, para alumni, panitia dan para tamu undangan, yang telah berkenan hadir dalam acara tersebut.
Ahmad Sabiqul Mustofa selaku Ketua PC PMII Kota Metro juga mengucapkan terima kasih  kepada para hadirin dan panitia yang sudah membantu memaksimalkan kegiatan tersebut.
"Ada 48 Pengurus yang hari ini dilantik.  Dengan mengangkat tema tersebut, kami PC PMII Metro Masa Khidmat 2018-2019, melihat di Era millenial ini banyak generasi yang aktifitasnya tidak bisa lepas menggunakan gadget d…

Wiji Thukul dan Puisinya

TIDAK  ada yang lebih menakutkan Orde Baru daripada Pramoedya Ananta Toer yang kreatif dan Wiji Thukul yang miskin dan bertubuh kurus kering yang seumur hidup bernaung di bawah atap rumah petak di sudut gelap kota Solo (Daniel Dhakidae). Untuk yang pertama disebutkan di atas, tidak ada penerbit yang bersedia menerbitkan karya-karyanya. Pramoedya yang “hanya” penulis roman menjadi “musuh” bersama ketika Orde Baru masih berkuasa. Tidak cukup hanya itu saja.

Banyak naskah-naskah Pram (sebutan untuk Pramoedya) dibakar oleh kekuasaan fasis Orde Baru. Ini membuat Pram, dan juga bangsa ini, kehilangan harta paling berharga yang dia punya. Semua karyanya dilarang beredar. Tidak ada satu pun toko buku yang berani menjual bukunya. Sekolah-sekolah di negeri ini nyaris tidak pernah membahas karyanya. Tuduhan subversi (tindakan mengancam keselamatan negara) dilayangkan bagi siapa saja yang ketahuan membaca buku Pram. Wiji Thukul mengalami hal yang kira-kira sama dengan apa yang dialami Pram.

Kala…