Langsung ke konten utama

Peran Penting Guru Sekolah


Guru menurut bahasa Arab disebut ustadzun,  kata ustadzun bila dirunut sampai kepada tugas yang sangat mulia. Karena  ia sebagai penyampai atau disebut juga dengan muballigh, walaupun dalam istilah bahasa arab yang lain kadang juga disebut mudarris, yang artinya penyampai pelajaran. Dan sudah familiar di masyarakat luas ulama yang biasa memberikan kajian pun disebut ustadz. Disinilah letak peran pentingnya seorang guru.

Guru adalah pekerjaan mulia dan termuliakan, sampai dalam sebuah riwayat kalau prioritas bagi seorang yang masuk ke dalam komunitas yang mendapat penghargaan tersendiri di hadapan sang Kholiq Allah di padang mahsyar kelak adalah  guru. Pantas saja seorang guru bukan sekedar lihai dalam menyampaikan materi, mentransfer knowledge tapi juga menjadi pendamping, pembimbing dan penyampai kebaikan sampai murid-muridnya menjadi berkarakter mulia yang akhirnya kelak dari sekolah itu lahir generasi hebat dan menjadi bagian dari peradaban mulia. Demikianlah tugas mulia seorang guru.

Namun pekerjaan yang sangat mulia itu masih belum disadari oleh seorang guru. Tugas yang masih dijalankan belum meningkat sampai pada tahap bernilai ibadah plus. Masih datar-datar saja, monoton irama pekerjaannya. Pergi dan pulang mendapatkan imbalan sesuai sesuai jam mengajarnya, sesuai dengan pekerjaannya. Jadi impas tidak ada nilai lebih. Bila seorang guru mengajar dengan orientasi pas-pasan atau cukupan seperti itu, hampir bisa dipastikan hasilnya hanya apa yang ia terima. Ia tidak akan mendapatkan lebih dari itu, kebahagiaan, keberkahan, ketenangan dan kecukupan. Nah, agar seorang guru mendapatkan nilai lebih selain yang ia terima secara materi yaitu berupa non material maka mengajarlah dengan niat beribadah. Bukan cuma itu tetapi dengan beribadah plus.

Beribadah plus maksudnya adalah niat mengajarnya ia niatkan dengan tulus mendapatkan keridhoan dari Allah sehingga ia memberi lebih dari yang ia terima atau ia dapatkan. Kalau  seorang guru sebatas menjalankan tugas sesuai dengan petunjuk, itu standar minimal dan biasa-biasa saja. Setelah itu tidak ada nilai tambah. Nilai tambah itu yang saya maksudkan dengan ketulusan ibadah. Ketika seorang guru mampu memberikan plus ia akan merasakan kebahagiaan tersendiri, sebagaimana seseorang yang sudah merasakan kebiasaan bersedekah ia akan mendapatkan ketenangan dan kebahagiaan karena memberi sedekah.

Maka sungguh sangat berat sebenarnya tugas seorang guru, tidak sekedar mempunyai multi kecerdasan atau mempunyai kemampuan ekstraordinary yaitu kemampuan manusia di luar kebiasaan. Namun lebih dari itu, motivasinya, inovasinya, akselerasinya sangat nampak terlihat dalam kehidupan sehari-hari bersama-sama dengan anak didiknya dan hasilnya sangat bisa dirasakan atmosper karakter yang dibangun oleh guru. Guru pun sangat dekat dengan murid-muridnya, sampai persoalan pribadinya ia sampaikan kepada gurunya. Karena gurunya juga berperan sebagai orang tuanya di sekolah.

Kondisi generasi muda yang didominasi dengan sifat negative seperti cenderung destruktif, menerabas, glamour, kurang sabar adalah kondisi yang sangat riskan. Sebenarnya bisa terselesaikan persoalan-persoalan ini lewat sekolah. Karena sekolahlah lembaga formal yang dapat secara mudah menemukan persoalan kecil sampai besar yang dialami oleh anak-anak didik. Anak didik cenderung mengikuti apa yang menjadi aturan positif di sekolahnya.

Di dalam  membangun negeri ini sungguh membutuhkan energi besar khususnya diawali dari generasi  emasnya. Demoralisasi generasi muda disinyalir disebabkan oleh karakter seorang guru yang salah orientasi, salah arah, salah tujuan. Persoalan guru saat ini menjadi permasalahan serius bangsa.

Karakter bangsa bisa dilihat dari bagaimana karakter guru-gurunya. Bagaimana karakter guru-guru di negeri kita ini? Mulai dari dikejar target materi dan administrasi sampai padatnya kegiatan belajar murid karena begitu banyaknya materi pelajaran yang harus dikuasainya. Menjadi salah satu sebab masih jauhnya ketercapaian menjadikannya manusia berperadaban mulia.

Menjadi guru di sekolah Muhammadiyah adalah guru yang ideal, ia mempunyai multi peran, suatu saat guru Muhammadiyah harus mampu berperan menjadi orang tua yang pintar memberikan support dan sisi lain harus mampu menasehati, di saat yang bersamaan guru Muhammadiyah pun siap menjadi pendamping dalam setiap keadaan, teman diskusi dan bermain dan ustadz yang selalu memberikan bimbingan dalam urusan agama.

Seakan kita merasa cukup manakala generasi emas Indonesia ditangani secara serius oleh sekolah-sekolah Muhammadiyah dan pemangku amanahnya adalah sosok-sosok guru yang berperan ideal. Walluhul musta’an.
___
Penulis: Praktisi Pendidikan, sebagai Kepala SD Muhammadiyah Kriyan Jepara dan menjadi Ketua Majelis Pendidikan Kader Pimpinan Daerah Muhammadiyah Jepara.
Sumber: Suaramuhammadiyah

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perkuat Semangat Kebangsaan Pemuda dalam Pembangunan Infrastruktur, PC PMII Metro Gelar Diskusi Di Aula Pusda

METRO - Senin (21/01), Tingkatkan semangat kebangsaan bagi generasi muda dalam pembangunan infrastruktur, Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PC PMII) Metro bersama Dinas Pekerjaan Umum (PU) gelar Diskusi Mahasiswa di Aula Dinas Perpustakaan Daerah (Pusda), Metro.
Melalui tema: Memperkuat Semangat Kebangsaan Bagi Generasi Muda dalam Mendukung Pembangunan Infrastruktur, ketua pelaksana, Triyo Pambudi, menyampaikan bahwa kegiatan tersebut bertujuan agar para pemuda khususnya mahasiswa lebih semangat giat berdiskusi, lebih mampu melek hingga mampu mengawal perkembangan infrastruktur di kota dan sadar akan peran pentingnya.
"Ini merupakan ruang untuk membudayakan  diskusi bagi pemuda. Sebagai pemuda khususnya mahasiswa kita juga harus sadar akan pentingnya pembangunan dan mampu mengawal setiap perkembangan infrastruktur di kota ini, sebab sebagai agent of change kita tidak hanya terus fokus duduk dibangku perkuliahan," ujarnya.
Selain itu, ketua umum PC PMII Me…

Pengurus Cabang PMII Metro 2018-2019 Resmi Dilantik

Metro - Minggu (07/04), Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PC PMII)  Metro Periode 2018-2019 telah resmi dilantik. Pelantikan ini dilaksanakan di Aula PGSD Unila Metro Selatan.
Kegiatan yang juga dirangkai dengan Festival Budaya Nusantara ini dimulai pukul 08.00 WIB dengan mengusung tema Meneguhkan Nilai-Nilai Budaya Nusantara Demi Menjaga Keutuhan Bangsa di Era Millenial. 
Bayu Sagara selaku ketua pelaksana mengucapkan terima kasih kepada  Pemerintah Kota Metro, Pengurus Besar (PB) PMII, para alumni, panitia dan para tamu undangan, yang telah berkenan hadir dalam acara tersebut.
Ahmad Sabiqul Mustofa selaku Ketua PC PMII Kota Metro juga mengucapkan terima kasih  kepada para hadirin dan panitia yang sudah membantu memaksimalkan kegiatan tersebut.
"Ada 48 Pengurus yang hari ini dilantik.  Dengan mengangkat tema tersebut, kami PC PMII Metro Masa Khidmat 2018-2019, melihat di Era millenial ini banyak generasi yang aktifitasnya tidak bisa lepas menggunakan gadget d…

Wiji Thukul dan Puisinya

TIDAK  ada yang lebih menakutkan Orde Baru daripada Pramoedya Ananta Toer yang kreatif dan Wiji Thukul yang miskin dan bertubuh kurus kering yang seumur hidup bernaung di bawah atap rumah petak di sudut gelap kota Solo (Daniel Dhakidae). Untuk yang pertama disebutkan di atas, tidak ada penerbit yang bersedia menerbitkan karya-karyanya. Pramoedya yang “hanya” penulis roman menjadi “musuh” bersama ketika Orde Baru masih berkuasa. Tidak cukup hanya itu saja.

Banyak naskah-naskah Pram (sebutan untuk Pramoedya) dibakar oleh kekuasaan fasis Orde Baru. Ini membuat Pram, dan juga bangsa ini, kehilangan harta paling berharga yang dia punya. Semua karyanya dilarang beredar. Tidak ada satu pun toko buku yang berani menjual bukunya. Sekolah-sekolah di negeri ini nyaris tidak pernah membahas karyanya. Tuduhan subversi (tindakan mengancam keselamatan negara) dilayangkan bagi siapa saja yang ketahuan membaca buku Pram. Wiji Thukul mengalami hal yang kira-kira sama dengan apa yang dialami Pram.

Kala…