Langsung ke konten utama

Pray For Lombok (Refleksi)


#PRAY4LOMBOK. Dalam setahun rata-rata ada 6.000 gempa di Indonesia. Sebab kepulauan kita yang kaya dan subur ini bukan jatuh dari kepingan surga, melainkan justru karena ditempa di “jalur neraka” (ring of fire).

Tapi bukan gempa yang mencelakai, melainkan bahan dan teknik bangunannya. Peradaban lama Nusantara beradaptasi dengan teknologi rumah panggung yang terjangkau semua kalangan. Yang membedakan status sosial antara rumah panggung milik bangsawan dan rakyat adalah jenis kayu atau ukiran-ukirannya. Tapi esensinya, ini adaptasi yang bisa dilakukan semua orang.

Lalu hutan mulai dikomersialisasi. Rakyat kehilangan bahan baku utama membangun rumah. Sementara proses geologi yang melahirkan gempa, tak pernah berubah. Kayu yang tadinya gratis tinggal mengambil, dan dikerjakan gotong royong, kini menjadi barang mahal. Karena hutan telah langka (akibat kebijakan negara), lalu negara menghibur diri dengan konsep Taman Nasional atau Kawasan Lindung. Artinya, semua yang di luar itu bisa dieksploitasi. Kayu pun makin susah diakses warga umumnya.

Sistem ekonomi dan politik ini lalu menukar kayu dengan semen atau baja ringan. Sebagian masih memakai kayu sebagai rangka atap. Tapi karena teknik bangunannya tak tahan gempa, semua bahan-bahan ini akhirnya mencelakai tuan rumahnya sendiri.

Kini kita menepuk dada sebagai generasi yang lebih modern. Dengan peradaban yang lebih maju. Pagi, siang, malam, yang dibicarakan adalah revolusi industri keempat (4.0) dan kecerdasan buatan alias artificial inteligent (AI). Mungkin karena sudah kehilangan kecerdasan organiknya.

Tapi setiap ada gempa, korban jiwa masih berjatuhan. Padahal kakek nenek kita bisa survive. Karena gempa tak pernah mencelakai, di Siberut, Mentawai, ia dianggap sebagai pertanda datangnya musim buah. Meski pengetahuan gempa sebagai pemicu tsunami sudah lama terputus dan mereka kini berusaha belajar dari tsunami 2010.

Apa adaptasi zaman kita yang masih hidup di “jalur neraka” ini? Apapun adaptasi atau intervensinya, “terjangkau” adalah kata kuncinya. Mengimpor teknologi dari Jepang mungkin salah satu solusi. Tapi apakah terjangkau seperti riwayat teknologi rumah panggung yang bahkan bisa dibangun dari bambu di rumah-rumah ladang di pedalaman? Itulah tantangannya.

Bahan rumah yang lebih ringan juga solusi. Membuatnya terjangkau adalah hal yang lain lagi. Teknik membangun juga bisa dikembangkan. Tapi apakah sistem pendidikan kita dapat memastikan semua orang mengakses pengetahuan ini, adalah hal yang berbeda.

Di Baduy Dalam, rumah tak boleh dibangun dengan merekayasa kontur tanah (tak boleh meratakan tanah untuk bangunan). Bahan bangunan lah yang harus menyesuaikan dengan kontur tanah. Maka rumah-rumah ladang Baduy Dalam memiliki tiang-tiang penyangga yang panjang-pendeknya tak sama.

Tentu saja ini bukan konsep teknik sipil yang diajarkan oleh Pu’un atau leluhur kepada anak cucunya. Tapi sebuah konsep yang dibungkus dengan pantangan adat dan tabu. Sudah menjadi doktrin. “Lojor teu meunang dipotong, pendek teu meunang disambung”. “Panjang pantang dipotong, pendek pantang disambung”.

Tapi apapun itu, toh efektif dan memiliki fungsi-fungsi praksis dan tepat guna. Lantas kita yang rasional memiliki strategi apa? Apakah kurikulum teknik sipil belajar tentang dasar-dasar pertahanan rumah-rumah rakyat menghadapi gempa, atau hanya belajar bagaimana memperkokoh beton-beton Waskita Karya dan Agung Podomoro?
___
Penulis: Dhandy Laksono, wartawan Watchdoc Documentary
Sumber: Facebook Dhandy Dwi Laksono

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Wiji Thukul dan Puisinya

TIDAK  ada yang lebih menakutkan Orde Baru daripada Pramoedya Ananta Toer yang kreatif dan Wiji Thukul yang miskin dan bertubuh kurus kering yang seumur hidup bernaung di bawah atap rumah petak di sudut gelap kota Solo (Daniel Dhakidae). Untuk yang pertama disebutkan di atas, tidak ada penerbit yang bersedia menerbitkan karya-karyanya. Pramoedya yang “hanya” penulis roman menjadi “musuh” bersama ketika Orde Baru masih berkuasa. Tidak cukup hanya itu saja.

Banyak naskah-naskah Pram (sebutan untuk Pramoedya) dibakar oleh kekuasaan fasis Orde Baru. Ini membuat Pram, dan juga bangsa ini, kehilangan harta paling berharga yang dia punya. Semua karyanya dilarang beredar. Tidak ada satu pun toko buku yang berani menjual bukunya. Sekolah-sekolah di negeri ini nyaris tidak pernah membahas karyanya. Tuduhan subversi (tindakan mengancam keselamatan negara) dilayangkan bagi siapa saja yang ketahuan membaca buku Pram. Wiji Thukul mengalami hal yang kira-kira sama dengan apa yang dialami Pram.

Kala…

Degradasi Kader PMII Di Bidang Menulis

PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia) merupakan organisasi yang basisnya adalah kederisasi, artinya proses menggodok kader atau anggota yang telah mengikuti proses MAPABA dan PKD dapat mengimplementasi nilai dan norma serta ideologi dalam kehidupan sehari-sehari. 
Proses kaderisasi sendiri tidak dapat diutarakan dengan sederhana, karena berbicara kaderisasi melibatkan banyak unsur, unsure moral, unsure pola fikir dan masih banyak unsur-unsur yang lain.  Dalam historinya, PMII adalah organisasi yang sudah bisa dikatakan lama usianya. PMII lahir pada tahun 1961. PMII yang mana identik anggotanya adalah mahasiswa seharus nya tidak lepas dengan tradisi mahasiswa yakni membaca menulis dan diskusi.
Menilik fakta yang terjadi di lingkungan organisasi PMII metro masih sangat minim dengan aktifitas membaca, menulis dan diskusi. Fenomena ini dapat dilihat dengan diadakanya  pelatihan menulis opini yang diadakan oleh pengurus cabang.
Dengan realita rekrutmen yang diadakan oleh setiap peng…

Menyoal Opini Publik yang Itu-itu Saja

Sudah sekitar satu bulan lebih publik Indonesia diramaikan dengan peristiwa aksi yang digelar oleh jutaan rakyat. Aksi masa yang berlabel “Aksi Bela Islam” ini setiap hari berita dan opininya sesak menjejali media.

Peristiwa aksi massa ini memang sangat fenomenal dan jarang terjadi ditambah melibatkan banyak aktor penting di dalamnya. Namun berjejalnya berita dan opini setiap hari di media, kian membuat sumpek dan jenuh seperti sudah tidak ada lagi tema lain yang bisa dijadikan berita atau opini.

Sudah tidak terhitung lagi berapa juta rangkian kata yang terpakai hanya untuk mengomentari aksi massa ini. Media sosial, portal berita daring dan wadah bagi penulis amatir seperti saya setiap hari membicarakan masalah yang sama, masalah yang itu-itu saja. Dari pagi sampai malam sampai pagi lagi, masih banyak saja yang melontarkan komentar tentang “Aksi Bela Islam” tersebut.

Komentarnya mulai dari yang murni kontra, pura-pura kontra biar terlihat berbeda, ada juga yang murni setuju dan banya…