Langsung ke konten utama

Alegori Kopulasi dalam Mengilhami Makna Membaca Buku


Mari kita mengiaskan sesuatu dalam realitas yang terjadi saat ini.

Berbagai kalangan dewasa ini tidak ingin dirinya menjadi manusia yang tanpa ilmu dan pengetahuan.

Maksudnya, bisa digarisbawahi bahwa masyarakat secara hasratnya yang spontan terus menerus mencari informasi dan informasi mengenai kabar lingkungan sekitar termasuk negaranya maupun di luar negaranya.

Ada dua kata yang dibahas dalam paragraf di atas tersebut. Pertama tentang masyarakat dan yang kedua tentang hasrat.

Pertama, masyarakat. Masyarakat di sini mencakup keseluruhan, namun penulis menitikberatkan kepada pelajar atau mahasiswa. Mengapa harus pelajar, mahasiswa? Ia adalah seorang yang haus ilmu (insan akademis), yang akan menjadi pelopor kebangsaan dan keumatan.

Dan kedua adalah hasrat. Hasrat tersebut lahir dari rahim keresahan, kesengsaraan, keterpurukan dalam hidupnya sehingga tingkatan emosionalnya dengan eskalasi yang begitu cepat telah siap untuk melakukan perubahan.

Untuk mengetahui kabar tersebut, berbagai cara dapat dilakukan di antaranya dengan membaca buku, koran, majalah, jurnal, artikel, media sosial dan lain sebagainya, melihat dan mendengar berita di televisi, Youtube dan juga berinteraksi dengan lingkungannya.

Hal ini tidak mungkin tidak bilamana seseorang yang telah membaca berbagai buku dengan sendirinya ia menikmati sensasi dan lupa untuk berbagi.

Bisa saja terjadi, namun dirasa tidak akan melahirkan perubahan yang mutakhir. Pada akhirnya sikap itu menghambat sebuah peradaban.

Sebagaimana hubungan intim manusia. Tujuan ia melakukan ritus tersebut adalah agar manusia tidak musnah di permukaan bumi ini.

Konteks musnah sangat berarti bagi peradaban, sebab hanya manusialah yang dapat mengelola bumi beserta isinya yang kemudian akan menimbulkan kesejahteraan alam.


Membaca buku dikiaskan dengan kopulasi. Ketika seseorang membaca buku yang kemudian tidak untuk disampaikan kepada lingkungannya maka tidak akan ada embrio ilmu dan pengetahuan, tidak akan ada teori baru, dan akan teralienasi dari jurang kehidupan.

Seperti halnya gagasan dari Hegel bahwa sintesis lahir dari tesis dan antitesis. Hal ini juga dapat dikiaskan melalui sistem reproduksi. Ketika sperma dari si jantan tidak untuk disemburkan kepada rahim si betina maka berbagai kemungkinan akan terjadi.

Kemungkinan-kemungkinan yang terjadi yaitu tidak adanya regenerasi bagi genusnya, ini dapat menyebabkan stres yang cukup berat, yang nanti akan menghancurkan segala yang ada termasuk genusnya sendiri.

Sikap tidak mengamalkan ini yang kemudian akan menghambat segala peradaban. Memberikan suatu proyeksi alegori kepada makna membaca buku hanya untuk penguatan masyarakat dalam memahami betapa penting dan harusnya mendiskusikan sesudah membaca berbagai buku.

Mari untuk tidak bersikap yang akan menghambat sebuah peradaban. Dari hal terkecil terlebih dahulu. Sebagai insan akademis dibutuhkan komitmen yang kuat terhadap statusnya.

Profesionalisme dijunjung tinggi, dengan saling mengkombinasikan hal-hal yang bersifat teoretis kepada hal-hal yang bersifat praksis.

Agar ada bukti konkret bahwa gagasan tidak hanya sekadar di alam pikiran melainkan dapat diimplementasikan untuk melakukan segala perubahan.
___
Penulis: Wildan Romadhon
Sumber: Qureta

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perkuat Semangat Kebangsaan Pemuda dalam Pembangunan Infrastruktur, PC PMII Metro Gelar Diskusi Di Aula Pusda

METRO - Senin (21/01), Tingkatkan semangat kebangsaan bagi generasi muda dalam pembangunan infrastruktur, Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PC PMII) Metro bersama Dinas Pekerjaan Umum (PU) gelar Diskusi Mahasiswa di Aula Dinas Perpustakaan Daerah (Pusda), Metro.
Melalui tema: Memperkuat Semangat Kebangsaan Bagi Generasi Muda dalam Mendukung Pembangunan Infrastruktur, ketua pelaksana, Triyo Pambudi, menyampaikan bahwa kegiatan tersebut bertujuan agar para pemuda khususnya mahasiswa lebih semangat giat berdiskusi, lebih mampu melek hingga mampu mengawal perkembangan infrastruktur di kota dan sadar akan peran pentingnya.
"Ini merupakan ruang untuk membudayakan  diskusi bagi pemuda. Sebagai pemuda khususnya mahasiswa kita juga harus sadar akan pentingnya pembangunan dan mampu mengawal setiap perkembangan infrastruktur di kota ini, sebab sebagai agent of change kita tidak hanya terus fokus duduk dibangku perkuliahan," ujarnya.
Selain itu, ketua umum PC PMII Me…

Wiji Thukul dan Puisinya

TIDAK  ada yang lebih menakutkan Orde Baru daripada Pramoedya Ananta Toer yang kreatif dan Wiji Thukul yang miskin dan bertubuh kurus kering yang seumur hidup bernaung di bawah atap rumah petak di sudut gelap kota Solo (Daniel Dhakidae). Untuk yang pertama disebutkan di atas, tidak ada penerbit yang bersedia menerbitkan karya-karyanya. Pramoedya yang “hanya” penulis roman menjadi “musuh” bersama ketika Orde Baru masih berkuasa. Tidak cukup hanya itu saja.

Banyak naskah-naskah Pram (sebutan untuk Pramoedya) dibakar oleh kekuasaan fasis Orde Baru. Ini membuat Pram, dan juga bangsa ini, kehilangan harta paling berharga yang dia punya. Semua karyanya dilarang beredar. Tidak ada satu pun toko buku yang berani menjual bukunya. Sekolah-sekolah di negeri ini nyaris tidak pernah membahas karyanya. Tuduhan subversi (tindakan mengancam keselamatan negara) dilayangkan bagi siapa saja yang ketahuan membaca buku Pram. Wiji Thukul mengalami hal yang kira-kira sama dengan apa yang dialami Pram.

Kala…

Menyoal Opini Publik yang Itu-itu Saja

Sudah sekitar satu bulan lebih publik Indonesia diramaikan dengan peristiwa aksi yang digelar oleh jutaan rakyat. Aksi masa yang berlabel “Aksi Bela Islam” ini setiap hari berita dan opininya sesak menjejali media.

Peristiwa aksi massa ini memang sangat fenomenal dan jarang terjadi ditambah melibatkan banyak aktor penting di dalamnya. Namun berjejalnya berita dan opini setiap hari di media, kian membuat sumpek dan jenuh seperti sudah tidak ada lagi tema lain yang bisa dijadikan berita atau opini.

Sudah tidak terhitung lagi berapa juta rangkian kata yang terpakai hanya untuk mengomentari aksi massa ini. Media sosial, portal berita daring dan wadah bagi penulis amatir seperti saya setiap hari membicarakan masalah yang sama, masalah yang itu-itu saja. Dari pagi sampai malam sampai pagi lagi, masih banyak saja yang melontarkan komentar tentang “Aksi Bela Islam” tersebut.

Komentarnya mulai dari yang murni kontra, pura-pura kontra biar terlihat berbeda, ada juga yang murni setuju dan banya…