Langsung ke konten utama

Perkuat Semangat Kebangsaan Pemuda dalam Pembangunan Infrastruktur, PC PMII Metro Gelar Diskusi Di Aula Pusda

Sambutan Ketua Umum PC PMII Metro, Ahmad Sabiqul Mustofa, S.E

METRO - Senin (21/01), Tingkatkan semangat kebangsaan bagi generasi muda dalam pembangunan infrastruktur, Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PC PMII) Metro bersama Dinas Pekerjaan Umum (PU) gelar Diskusi Mahasiswa di Aula Dinas Perpustakaan Daerah (Pusda), Metro.

Melalui tema: Memperkuat Semangat Kebangsaan Bagi Generasi Muda dalam Mendukung Pembangunan Infrastruktur, ketua pelaksana, Triyo Pambudi, menyampaikan bahwa kegiatan tersebut bertujuan agar para pemuda khususnya mahasiswa lebih semangat giat berdiskusi, lebih mampu melek hingga mampu mengawal perkembangan infrastruktur di kota dan sadar akan peran pentingnya.

"Ini merupakan ruang untuk membudayakan  diskusi bagi pemuda. Sebagai pemuda khususnya mahasiswa kita juga harus sadar akan pentingnya pembangunan dan mampu mengawal setiap perkembangan infrastruktur di kota ini, sebab sebagai agent of change kita tidak hanya terus fokus duduk dibangku perkuliahan," ujarnya.

Selain itu, ketua umum PC PMII Metro, Ahmad Sabiqul Mustofa, S.E, menuturkan dengan semangat kebangsaan yang kuat para generasi muda, ia berharap agar setiap pemuda mampu memberikan kontribusi positif dan optimismenya bagi pembangunan infrastruktur yang lebih baik.

"Diharapkan dengan semangat kebangsaan yang kuat dari generasi muda saat ini, mampu memberikan kontribusi positif dan optimisme bagi pembangunan infrastruktur yang lebih baik demi kemajuan ekonomi dan keadilan sosial," pungkasnya saat diwawancarai.

Dalam diskusi tersebut PC PMII Metro menghadirkan tiga narasumber: M. Andi Kardinal, S.Sos, dari Dinas PU Kota Metro, Diana Ambarwati, ME, Sy, dari Dosen IAIN Metro dan Gangsar Gumelar, S.Pd dari aktivis/tokoh pemuda.

M. Andi Kardinal, mengawali diskusi dengan pemaparan informasi tentang Musyawarah Rencana Pembangunan di Kota Metro dan peran serta dukungan pemuda dalam pembangunan kota.

Selain itu, Diana Ambarwati, dalam pemaparan materi juga mengedukasi sekaligus mengajak para peserta diskusi untuk kritis dalam pembangunan infrastruktur dengan perspektif gender. Diana memberi contoh tentang bangunan-bangunan kota yang belum memenuhi syarat gender seperti bangunan yang tidak ada ruang menyusui dan fasilitas untuk disabilitas.

Terakhir tokoh pemuda sekaligus mantan aktivis mahasiswa, Gangsar Gumelar, juga mengajak para mahasiswa untuk turut serta dan berperan aktif dalam pembangunan infrastruktur daerah, khususnya pembangunan desa.

Diskusi berlangsung sejak pukul 09.00 WIB hingga pukul 11.45 WIB dan diikuti oleh 70 peserta mahasiswa dari berbagai kampus di Kota Metro. (Red)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Wiji Thukul dan Puisinya

TIDAK  ada yang lebih menakutkan Orde Baru daripada Pramoedya Ananta Toer yang kreatif dan Wiji Thukul yang miskin dan bertubuh kurus kering yang seumur hidup bernaung di bawah atap rumah petak di sudut gelap kota Solo (Daniel Dhakidae). Untuk yang pertama disebutkan di atas, tidak ada penerbit yang bersedia menerbitkan karya-karyanya. Pramoedya yang “hanya” penulis roman menjadi “musuh” bersama ketika Orde Baru masih berkuasa. Tidak cukup hanya itu saja.

Banyak naskah-naskah Pram (sebutan untuk Pramoedya) dibakar oleh kekuasaan fasis Orde Baru. Ini membuat Pram, dan juga bangsa ini, kehilangan harta paling berharga yang dia punya. Semua karyanya dilarang beredar. Tidak ada satu pun toko buku yang berani menjual bukunya. Sekolah-sekolah di negeri ini nyaris tidak pernah membahas karyanya. Tuduhan subversi (tindakan mengancam keselamatan negara) dilayangkan bagi siapa saja yang ketahuan membaca buku Pram. Wiji Thukul mengalami hal yang kira-kira sama dengan apa yang dialami Pram.

Kala…

Menyoal Opini Publik yang Itu-itu Saja

Sudah sekitar satu bulan lebih publik Indonesia diramaikan dengan peristiwa aksi yang digelar oleh jutaan rakyat. Aksi masa yang berlabel “Aksi Bela Islam” ini setiap hari berita dan opininya sesak menjejali media.

Peristiwa aksi massa ini memang sangat fenomenal dan jarang terjadi ditambah melibatkan banyak aktor penting di dalamnya. Namun berjejalnya berita dan opini setiap hari di media, kian membuat sumpek dan jenuh seperti sudah tidak ada lagi tema lain yang bisa dijadikan berita atau opini.

Sudah tidak terhitung lagi berapa juta rangkian kata yang terpakai hanya untuk mengomentari aksi massa ini. Media sosial, portal berita daring dan wadah bagi penulis amatir seperti saya setiap hari membicarakan masalah yang sama, masalah yang itu-itu saja. Dari pagi sampai malam sampai pagi lagi, masih banyak saja yang melontarkan komentar tentang “Aksi Bela Islam” tersebut.

Komentarnya mulai dari yang murni kontra, pura-pura kontra biar terlihat berbeda, ada juga yang murni setuju dan banya…