Langsung ke konten utama

Degradasi Kader PMII Di Bidang Menulis


PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia) merupakan organisasi yang basisnya adalah kederisasi, artinya proses menggodok kader atau anggota yang telah mengikuti proses MAPABA dan PKD dapat mengimplementasi nilai dan norma serta ideologi dalam kehidupan sehari-sehari. 

Proses kaderisasi sendiri tidak dapat diutarakan dengan sederhana, karena berbicara kaderisasi melibatkan banyak unsur, unsure moral, unsure pola fikir dan masih banyak unsur-unsur yang lain. 
Dalam historinya, PMII adalah organisasi yang sudah bisa dikatakan lama usianya. PMII lahir pada tahun 1961. PMII yang mana identik anggotanya adalah mahasiswa seharus nya tidak lepas dengan tradisi mahasiswa yakni membaca menulis dan diskusi.

Menilik fakta yang terjadi di lingkungan organisasi PMII metro masih sangat minim dengan aktifitas membaca, menulis dan diskusi. Fenomena ini dapat dilihat dengan diadakanya  pelatihan menulis opini yang diadakan oleh pengurus cabang.

Dengan realita rekrutmen yang diadakan oleh setiap pengurus rayon se cabang kota metro yang berjumlah 17 yang mana pada setiap rayon dapat merekrut kurang lebih 30 orang anggota. Dan pada malam pelatihan  menulis opini hanya berjumlah  11 orang, artinya ini adalah fakta yang miris. 

Menurut penulis fenomena ini menunjukan degradasi ghiroh kader dibidang menulis. Sangat disayangkan jika sudah tergabung dengan PMII namun skill menulisnya nol. Ada pepatah popular aksi tanpa media is nothing. 

Ada indikasi lain yang penulis khawatirkan dari terjadinya degradasi ghiroh menulis, yakni bisa dilihat indikasi factor nya ialah melemahnya kemampuan membaca, lemahnya kemampua menggagas dan menganalisa.

Jika  hal hal dmikian mulai melemah maka kemudian skill apa yang akan dikembangkan sebagai kader PMII. Apa mungkin hanya skill beretorika dan berpolitik saja? Hal ini penulis sampaikan bukan tanpa dasar.

Masih sering penulis mengamati ghiroh pergerakan masih sering tercipta dimomen yang berbau politik. Namun tidak hanya sepihak pada kekhawatiran tersebut, karena masih ada kemungkinan degradasi ini muncul dari kurang suportnya para structural.

Masih ada kesempatan untuk memperbaiki selama mentari terbit dari timur, artinya tiak ada kata terlambat dalam belajar. Semua kader memiliki kesempatan yang sama untuk berproses. Hanya perlu disadarkan bahwa skill menulis merupakan skill wajib sebagai kader PMII. Dengan alasan apapun skill menulis tidak akan pernah using oleh zaman.

Degradasi ini masih dapat direkontruksi ulang dengan diawali adanya pelatihan menulis masih ada harapan. Menurut penulis batu yang keras pun dapat terlobangi oleh tetesan air yang terus menerus. Dengan demikian keistiqomahan pelatihan ini dapat menjadi solusi pada degradasi kader PMII dibidang menulis. 
Salam pergerakan
_

Penulis: M. Lutfi Hakim

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Wiji Thukul dan Puisinya

TIDAK  ada yang lebih menakutkan Orde Baru daripada Pramoedya Ananta Toer yang kreatif dan Wiji Thukul yang miskin dan bertubuh kurus kering yang seumur hidup bernaung di bawah atap rumah petak di sudut gelap kota Solo (Daniel Dhakidae). Untuk yang pertama disebutkan di atas, tidak ada penerbit yang bersedia menerbitkan karya-karyanya. Pramoedya yang “hanya” penulis roman menjadi “musuh” bersama ketika Orde Baru masih berkuasa. Tidak cukup hanya itu saja.

Banyak naskah-naskah Pram (sebutan untuk Pramoedya) dibakar oleh kekuasaan fasis Orde Baru. Ini membuat Pram, dan juga bangsa ini, kehilangan harta paling berharga yang dia punya. Semua karyanya dilarang beredar. Tidak ada satu pun toko buku yang berani menjual bukunya. Sekolah-sekolah di negeri ini nyaris tidak pernah membahas karyanya. Tuduhan subversi (tindakan mengancam keselamatan negara) dilayangkan bagi siapa saja yang ketahuan membaca buku Pram. Wiji Thukul mengalami hal yang kira-kira sama dengan apa yang dialami Pram.

Kala…

Menyoal Opini Publik yang Itu-itu Saja

Sudah sekitar satu bulan lebih publik Indonesia diramaikan dengan peristiwa aksi yang digelar oleh jutaan rakyat. Aksi masa yang berlabel “Aksi Bela Islam” ini setiap hari berita dan opininya sesak menjejali media.

Peristiwa aksi massa ini memang sangat fenomenal dan jarang terjadi ditambah melibatkan banyak aktor penting di dalamnya. Namun berjejalnya berita dan opini setiap hari di media, kian membuat sumpek dan jenuh seperti sudah tidak ada lagi tema lain yang bisa dijadikan berita atau opini.

Sudah tidak terhitung lagi berapa juta rangkian kata yang terpakai hanya untuk mengomentari aksi massa ini. Media sosial, portal berita daring dan wadah bagi penulis amatir seperti saya setiap hari membicarakan masalah yang sama, masalah yang itu-itu saja. Dari pagi sampai malam sampai pagi lagi, masih banyak saja yang melontarkan komentar tentang “Aksi Bela Islam” tersebut.

Komentarnya mulai dari yang murni kontra, pura-pura kontra biar terlihat berbeda, ada juga yang murni setuju dan banya…