Langsung ke konten utama

Rayon AS Kom Jusi Adakan Follow Up Kaderisasi





Minggu (31/03) Pengurus Rayon Al Ahwal Al Syakhsiyyah (AS) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Komisariat Jurai Siwo (Komjusi) Metro adakan Follow up Kaderisasi di Sekretariat Rayon AS, 38b Banjarrejo, Kec Batanghari, Lampung Timur.

Follow up ini membahas Ahlussunnah Waljamaah sebagai Manhaj Al Fikr yang diisi oleh Ketua III bidang keagamaan Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Metro, sahabat Iqbal Fanany. Follow up ini di hadiri oleh warga dan kader PMII Rayon Al Ahwal Al Syakhsiyyah.

Dalam menyampaikan materinya sahabat Iqbal mengutarakan masalah yang di hadapi oleh kader-kader PMII, bahwa pada saat ini banyak sekali kader dan warga PMII yang tercemari paham di luar PMII, maka sebab itulah Ahlussunnah waljamaah sebagai Manhaj Al fikr penting untuk diyakini sebagai metode berfikir kader dan warga PMII.

"Follow up ini diharapkan bisa menjadi pemicu Rayon AS agar dapat konsisten dalam menjalankan amaliyah Ahlussunnah waljamaah di wilayah PMII Komisariat Jurai Siwo," ujar Sahabat Iqbal Fanani.

Selain itu, Sahabat Andi Suhendra selaku Ketua Rayon AS mengatakan follow up tersebut untuk lebih meyakinkan sepenuhnya Ahlussunah Waljamaah sebagai Manhaj Al Fikr kepada anggota Rayon AS.

"Dengan diadakannya follow up ini saya harap warga dan kader PMII Rayon Al Ahwal Al Syakhsiyyah dapat meyakini Ahlussunnah waljamaah sebagai manhaj al fikr dengan sepenuhnya agar warga PMII Rayon Al Ahwal Al Syakhsiyyah ini menjadi anggota mu'taqid," ujarnya. (Red/Ahmad Nashirudin).

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perkuat Semangat Kebangsaan Pemuda dalam Pembangunan Infrastruktur, PC PMII Metro Gelar Diskusi Di Aula Pusda

METRO - Senin (21/01), Tingkatkan semangat kebangsaan bagi generasi muda dalam pembangunan infrastruktur, Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PC PMII) Metro bersama Dinas Pekerjaan Umum (PU) gelar Diskusi Mahasiswa di Aula Dinas Perpustakaan Daerah (Pusda), Metro.
Melalui tema: Memperkuat Semangat Kebangsaan Bagi Generasi Muda dalam Mendukung Pembangunan Infrastruktur, ketua pelaksana, Triyo Pambudi, menyampaikan bahwa kegiatan tersebut bertujuan agar para pemuda khususnya mahasiswa lebih semangat giat berdiskusi, lebih mampu melek hingga mampu mengawal perkembangan infrastruktur di kota dan sadar akan peran pentingnya.
"Ini merupakan ruang untuk membudayakan  diskusi bagi pemuda. Sebagai pemuda khususnya mahasiswa kita juga harus sadar akan pentingnya pembangunan dan mampu mengawal setiap perkembangan infrastruktur di kota ini, sebab sebagai agent of change kita tidak hanya terus fokus duduk dibangku perkuliahan," ujarnya.
Selain itu, ketua umum PC PMII Me…

Pengurus Cabang PMII Metro 2018-2019 Resmi Dilantik

Metro - Minggu (07/04), Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PC PMII)  Metro Periode 2018-2019 telah resmi dilantik. Pelantikan ini dilaksanakan di Aula PGSD Unila Metro Selatan.
Kegiatan yang juga dirangkai dengan Festival Budaya Nusantara ini dimulai pukul 08.00 WIB dengan mengusung tema Meneguhkan Nilai-Nilai Budaya Nusantara Demi Menjaga Keutuhan Bangsa di Era Millenial. 
Bayu Sagara selaku ketua pelaksana mengucapkan terima kasih kepada  Pemerintah Kota Metro, Pengurus Besar (PB) PMII, para alumni, panitia dan para tamu undangan, yang telah berkenan hadir dalam acara tersebut.
Ahmad Sabiqul Mustofa selaku Ketua PC PMII Kota Metro juga mengucapkan terima kasih  kepada para hadirin dan panitia yang sudah membantu memaksimalkan kegiatan tersebut.
"Ada 48 Pengurus yang hari ini dilantik.  Dengan mengangkat tema tersebut, kami PC PMII Metro Masa Khidmat 2018-2019, melihat di Era millenial ini banyak generasi yang aktifitasnya tidak bisa lepas menggunakan gadget d…

Wiji Thukul dan Puisinya

TIDAK  ada yang lebih menakutkan Orde Baru daripada Pramoedya Ananta Toer yang kreatif dan Wiji Thukul yang miskin dan bertubuh kurus kering yang seumur hidup bernaung di bawah atap rumah petak di sudut gelap kota Solo (Daniel Dhakidae). Untuk yang pertama disebutkan di atas, tidak ada penerbit yang bersedia menerbitkan karya-karyanya. Pramoedya yang “hanya” penulis roman menjadi “musuh” bersama ketika Orde Baru masih berkuasa. Tidak cukup hanya itu saja.

Banyak naskah-naskah Pram (sebutan untuk Pramoedya) dibakar oleh kekuasaan fasis Orde Baru. Ini membuat Pram, dan juga bangsa ini, kehilangan harta paling berharga yang dia punya. Semua karyanya dilarang beredar. Tidak ada satu pun toko buku yang berani menjual bukunya. Sekolah-sekolah di negeri ini nyaris tidak pernah membahas karyanya. Tuduhan subversi (tindakan mengancam keselamatan negara) dilayangkan bagi siapa saja yang ketahuan membaca buku Pram. Wiji Thukul mengalami hal yang kira-kira sama dengan apa yang dialami Pram.

Kala…